Investasi Bodong: Membongkar Mekanisme Skema Ponzi

Hartaty Hadady

Dari mana sumber dana yang digunakan untuk melakukan pembayaran tersebut?
Apakah berasal dari keuntungan kegiatan usaha?
Apakah berasal dari pendapatan investasi yang dapat diverifikasi?
Ataukah berasal dari setoran peserta lain?
Perbedaan ketiganya sangat fundamental.

Testimoni Bukan Laporan Keuangan

Di era media sosial, keberhasilan seseorang dapat menjadi alat pemasaran yang sangat kuat. Foto menerima keuntungan, tangkapan layar saldo, video testimoni, kendaraan baru, perjalanan, atau cerita mengenai keberhasilan finansial dapat membuat sebuah tawaran investasi terlihat meyakinkan.

Apalagi jika orang yang memberikan testimoni adalah teman sendiri. Kepercayaan personal kemudian menggantikan proses analisis. Padahal dalam keputusan investasi, testimoni tidak sama dengan informasi keuangan.

Seseorang dapat benar-benar memperoleh pembayaran tanpa mengetahui mekanisme dibalik pembayaran tersebut. Bahkan seseorang yang awalnya hanya menjadi peserta dapat berubah menjadi bagian dari rantai pemasaran ketika ia mengajak orang lain untuk ikut. Bukan selalu karena ia berniat menipu, tetapi karena ia sendiri percaya bahwa investasi tersebut benar-benar berhasil.

Di sinilah skema Ponzi dapat berkembang melalui hubungan sosial. Teman mengajak teman. Keluarga mengajak keluarga. Rekan kerja mengajak rekan kerja. Komunitas menjadi saluran penyebaran.

Akibatnya, risiko tidak lagi hanya berada pada hubungan antara penyelenggara dan investor. Risiko dapat menyebar melalui jaringan kepercayaan masyarakat.

Ketika Keuntungan Mengalahkan Logika Risiko

Persoalan lainnya adalah cara masyarakat memandang keuntungan investasi. Dalam manajemen keuangan, kita mengenal hubungan antara risiko dan tingkat pengembalian (return).

Secara umum, semakin tinggi risiko yang ditanggung investor, semakin tinggi tingkat pengembalian yang biasanya diharapkan sebagai kompensasi atas risiko tersebut.

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2 3 4 5 6

Komentar

Loading...