Investasi Bodong: Membongkar Mekanisme Skema Ponzi

Ketika Keuntungan Pertama Justru Menjadi Awal Jebakan
Bayangkan seseorang ditawari investasi sebesar Rp10 juta dengan janji memperoleh keuntungan 10 persen setiap bulan. Ia kemudian menyetor uang Rp10 juta. Beberapa waktu kemudian, ia benar-benar menerima keuntungan Rp1 juta. Pada titik tersebut, apa yang mungkin muncul dalam pikirannya?
“Saya sudah membuktikan sendiri. Investasinya benar-benar menghasilkan.” Kepercayaan pun tumbuh. Ia kemudian mungkin menambah modal menjadi Rp20 juta, Rp50 juta, bahkan lebih dari itu. Tidak berhenti sampai disitu, ia juga dapat menceritakan keberhasilannya kepada teman, saudara, atau anggota komunitasnya. Inilah bagian yang sering tidak disadari.
Pembayaran kepada peserta awal dapat menjadi alat untuk membangun kepercayaan terhadap skema tersebut. Ketika peserta awal menerima pembayaran, mereka merasa bahwa investasi tersebut berjalan sebagaimana yang dijanjikan.
Padahal, apabila pembayaran itu ternyata berasal dari dana peserta baru, maka sebenarnya tidak terjadi penciptaan nilai investasi sebagaimana yang seharusnya terjadi dalam aktivitas investasi yang sehat. Yang terjadi adalah perpindahan uang dari satu kelompok peserta kepada kelompok peserta lainnya.
Peserta lama mendapatkan pembayaran dari dana yang masuk kemudian. Kemudian peserta baru masuk karena melihat peserta lama berhasil. Peserta baru menyetor uang.
Sebagian uang tersebut kembali digunakan untuk membayar peserta sebelumnya. Siklus ini terus berputar selama uang baru yang masuk masih mampu menopang pembayaran yang harus dilakukan. Disinilah mekanisme Ponzi bekerja.
Mengapa peserta baru sangat penting?. Dalam investasi yang sehat, sumber keuntungan semestinya dapat dijelaskan melalui aktivitas ekonomi atau investasi yang mendasarinya.
Misalnya, seseorang membeli saham. Perusahaan yang sahamnya dimiliki menjalankan kegiatan usaha. Perusahaan menghasilkan pendapatan, memperoleh laba, dan memiliki prospek bisnis. Nilai investasi kemudian dapat berubah mengikuti kinerja perusahaan dan kondisi pasar.
Baca Halaman Selanjutnya..

Komentar