Ketika Niat Baik Jadi Pemicu Instabilitas
Pola Komunikasi Publik Presiden dan Tafsir atas Kebijakan Ekonominya

Dan ini kutipan pembuka analog itu: " Bayangkan seorang ibu membelah sebutir telur untuk dua anaknya sebelum sekolah. Pisau itu berhenti sesaat. Ia sedang menghitung sesuatu yang tak tercatat dalam anggaran negara.
Anak sulung menggeser bagiannya kepada adik. Katanya, ia belum lapar. Sang ibu menunduk. Ada kebohongan kecil yang membuat sebuah rumah tetap berdiri pagi itu.
Di televisi, kekayaan Indonesia disebut dengan angka panjang. Di meja makan, kekayaan itu belum mempunyai alamat. Dua piring kecil masih menunggu bagian mereka dari kemerdekaan.
Di sanalah gagasan ekonomi seorang presiden akhirnya diuji. Bisakah kekayaan negeri tiba sebagai makanan, pekerjaan, dan kesempatan? Pertanyaan sederhana itu membawa saya kepada ekonomi Prabowo".
Dan jangan lupa membacanya dengan pelan, cermat dan utuh. Mungkin ada sisi yang selama ini tak pernah dilihat. Wallahua'lam. (*)

Komentar