Masa Depan Bahasa Daerah di Malut

Jainul Yusup

Minimnya media pembelajaran yang interaktif, ketiadaan standar tata bahasa tertulis yang sistematis untuk beberapa bahasa minoritas, serta kurangnya tenaga pengajar yang kompeten membuat pembelajaran bahasa daerah terasa membosankan bagi siswa.

Sekolah justru seringkali memposisikan bahasa daerah sebagai objek hafalan kaku, bukan sebagai bahasa hidup yang menyenangkan untuk dipraktikkan.

4. Disrupsi Digital dan Ketidakhadiran dalam Budaya Pop; generasi Z dan Alpha adalah penduduk asli digital. Kehidupan sehari-hari mereka dipenuhi oleh konten TikTok, YouTube, Instagram, FB dan video game yang didominasi bahasa nasional dan internasional.

Bahasa-bahasa daerah di Maluku Utara hampir sama sekali tidak memiliki ruang atau konten kreasi di platform digital. Ketidakhadiran bahasa daerah dalam ruang Siber ini membuat generasi muda merasa tidak memiliki keterikatan emosional maupun kultural terhadap bahasa leluhurnya.

Dari sudut pandang ilmu sejarah, kehilangan bahasa daerah bukan sekadar kehilangan kosa kata, melainkan hilangnya seluruh sistem pengetahuan lokal (local wisdom) yang tersimpan di dalamnya.

Di Maluku Utara, sejarah tidak hanya tertulis di dalam buku-buku arsip Belanda atau Portugis, tetapi hidup dalam tradisi lisan: futu-futu (pantun), fola domato (arsitektur dan tata ruang tradisional), manuskrip keagamaan, serta mantra-mantra pemeliharaan alam.

Ketika sebuah bahasa daerah punah, maka punah pula kearifan lokal masyarakat dalam mengelola lingkungan hidupnya. Pengetahuan etnobotani tentang obat-obatan tradisional, navigasi kelautan berbasis bintang dan arus, serta nilai-nilai filosofis persaudaraan akan kehilangan konteks aslinya.

Generasi masa depan Maluku Utara berisiko mengalami amnesia sejarah, mereka tinggal di tanah kepulauan rempah yang kaya, tetapi terputus dari akar sejarah dan nilai-nilai yang membentuk karakter nenek moyangnya.

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2 3 4 5 6

Komentar

Loading...