Masa Depan Bahasa Daerah di Malut

Mengapa Generasi Muda Kehilangan Penutur?
Penurunan jumlah penutur muda di Maluku Utara tidak terjadi secara kebetulan, melainkan hasil dari interaksi kompleks antara faktor sosiologis, psikologis, dan perkembangan teknologi modern.
1. Pergeseran Pola Pengasuhan dalam keluarga; keluarga adalah benteng terakhir pertahanan bahasa daerah. Sayangnya, terjadi pergeseran paradigma pengasuhan (parenting) di kalangan orang tua muda di Maluku Utara.
Banyak orang tua kini secara sadar memilih untuk berkomunikasi menggunakan Bahasa Indonesia atau Melayu Ternate kepada anak-anak mereka sejak dini.
Ada anggapan bahwa mengajar bahasa daerah hanya akan "membebani" perkembangan kognitif anak atau membuat mereka kesulitan beradaptasi di sekolah.
Akibatnya, bahasa daerah berhenti menjadi bahasa pertama dan bergeser menjadi sekadar bahasa asing yang kadang-kadang didengar dari kakek atau nenek mereka.
2. Stigma Sosial dan Psiko-Linguistik; terdapat persepsi terselubung bahwa menguasai atau menggunakan bahasa daerah di ruang publik terkesan "kampungan", "kuno", atau tidak modern.
Generasi muda yang tumbuh dalam budaya pop global yang serba cepat cenderung mengasosiasikan keren dan majunya seseorang dengan penguasaan Bahasa Indonesia baku, Bahasa Inggris, atau bahkan bahasa asing populer lainnya. Bahasa daerah diposisikan sebagai peninggalan masa lalu yang tidak lagi relevan dengan cita-cita mobilitas sosial masa depan.
3. Ketimpangan Kurikulum Pendidikan Lokal; sistem pendidikan formal sejauh ini belum mampu hadir sebagai penyelamat. Mata pelajaran Muatan Lokal (Mulok) Bahasa Daerah di sekolah-sekolah Maluku Utara sering kali formalitas belaka.
Baca Halaman Selanjutnya..



Komentar