Catatan

Lapangan Kecil, Mimpi Besar Maluku Utara

Muliadi Tutupoho

Di tengah banyaknya cabang olahraga mulai dari tinju, bola voli, bulu tangkis, bola basket, tenis meja, atletik, hingga maraton—sepak bola tetap menjadi bahasa yang paling mudah dipahami semua orang.

Tetapi pertanyaan yang lebih penting bukanlah mengapa sepak bola begitu dicintai. Pertanyaannya adalah, sudahkah kecintaan itu dikelola menjadi kekuatan pembangunan?

Selama ini kita masih memandang olahraga sebatas aktivitas fisik atau hiburan. Bahkan dalam banyak kebijakan, olahraga sering kali diposisikan sebagai sektor pelengkap yang memperoleh perhatian setelah urusan lain dianggap selesai.

Padahal, dunia telah lama bergerak ke arah yang berbeda.
Profesor Howard Gardner, melalui teori multiple intelligences, menjelaskan bahwa kecerdasan manusia tidak hanya diukur melalui kemampuan berhitung atau berbahasa. Ada kecerdasan bodily kinestetik yaitu kemampuan menggunakan tubuh secara terampil dan kreatif yang menjadi fondasi lahirnya atlet-atlet hebat.

Temuan pakar pendidikan Amerika Serikat dalam risetnya itu mengajarkan satu hal penting, bahwa anak yang piawai menggiring bola tidak lebih rendah nilainya dibanding anak yang pandai menyelesaikan soal matematika. Mereka hanya memiliki jalan kecerdasan yang berbeda.

Karena itu, bakat olahraga bukan sekadar hobi yang dibiarkan tumbuh sendiri. Tetapi harus ditemukan sejak dini, dipelihara, dan dibina secara serius.

Orang tua menjadi penjaga mimpi pertama, sekolah menjadi ruang pembentukan karakter, sementara pemerintah berkewajiban menghadirkan ekosistem yang memungkinkan bakat itu berkembang.

Pekan Olahraga Pelajar Daerah (Popda) selama ini telah menjadi salah satu pintu masuk pembinaan atlet muda. Namun kompetisi saja tidak cukup.

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2 3 4

Komentar

Loading...