Kementrans Perkuat Ketahanan Pangan, Kelompok Tani Payahe Kini Mampu Penuhi Permintaan Kawasan Industri IWIP

11e6e75f 7646 45bb a5a1 50d64e9be840
Aktivitas kelompok tani payahe

Payahe, Malutpost.com — Kementerian Transmigrasi terus mendorong penguatan ekonomi kawasan transmigrasi melalui program penguatan kelembagaan kelompok tani di Payahe pada tahun 2025. Program ini terbukti meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus memperkuat peran kawasan transmigrasi sebagai penyangga ketahanan pangan di sekitar kawasan industri.

Bantuan Alsintan Dorong Produktivitas Lahan

Sepanjang tahun 2025, Kementerian Transmigrasi menyalurkan bantuan senilai sekitar Rp400 juta kepada empat kelompok tani di kawasan Payahe. Bantuan tersebut meliputi alat mesin pertanian (alsintan), pupuk, dan bibit unggul untuk memperkuat produktivitas lahan.

Pemanfaatan alsintan tersebut mendorong percepatan pengolahan lahan yang sebelumnya tidak optimal menjadi lahan produktif. Petani kini mampu meningkatkan intensitas tanam dan memperluas skala produksi secara lebih efisien.

Lonjakan Distribusi ke Kawasan Industri IWIP

Dampak program ini terlihat dari meningkatnya distribusi hasil pertanian ke kawasan industri IWIP (Indonesia Weda Bay Industrial Park).

Sebelumnya, kelompok tani hanya mampu mengirim hasil panen menggunakan 4 mobil dan 5 motor dengan total sekitar 2,3 ton dengan pendapatan berkisar 8-10jt. Saat ini, kapasitas distribusi meningkat signifikan menjadi 20 mobil dan 18 motor dengan pendapatan meningkat menjadi kurang lebih 27-32 jt setiap dua hari sekali untuk memenuhi permintaan pasar di kawasan industri tersebut.

Peningkatan produktivitas tersebut berdampak langsung pada pendapatan dan kesejahteraan petani di Payahe. Selain memperkuat rantai pasok pangan lokal, program ini juga membuka akses pasar yang lebih stabil bagi kelompok tani.

Muhammad Qufal, Direktur Pengembangan Kelembagaan Ekonomi Transmigrasi Kementerian Transmigrasi menyampaikan bahwa program ini merupakan bagian dari strategi besar pemberdayaan kawasan transmigrasi.

“Penguatan kelembagaan kelompok tani menjadi kunci agar kawasan transmigrasi tidak hanya mandiri, tetapi juga mampu menjadi bagian penting dalam rantai pasok industri. Dengan dukungan sarana produksi yang tepat, petani terbukti mampu meningkatkan kapasitas secara signifikan,” ujarnya.

Salah satu petani penerima manfaat, Anto menyampaikan bahwa perubahan ini sangat dirasakan oleh masyarakat.

“Dulu kami kesulitan mengolah lahan dan hasil panen sering terbatas. Setelah ada bantuan alsintan dan pendampingan, produksi kami meningkat jauh. Sekarang kami bisa rutin memasok kebutuhan ke kawasan industri IWIP, dan penghasilan petani juga jauh lebih stabil,” ujar seorang petani kelompok tani Payahe.

Dengan capaian tersebut, kawasan transmigrasi Payahe kini berkembang menjadi salah satu penyangga utama ketahanan pangan di sekitar kawasan industri, sekaligus menjadi model keberhasilan pemberdayaan ekonomi berbasis kelembagaan petani.(red/kun)

Komentar

Loading...