Pancasila: “Ritus yang Tidak Lagi Sakral”

Disinilah kita tentu akan bertanya seberapa ampuhnya Pancasila disaat kita melaksanakan ritus tahunan melalui upacara-upacara peringatan hari lahirnya.
Setidaknya harus ada hal yang substantif dari pelaksanaannya, semisal membumikan nilai-nilai Pancasila yang terintergasi dalam kehidupan sosial maupun di lingkungan pemerintah (tempat kerja).
Ironi Pancasila
Pancasila adalah ruh bangsa Indonesia dalam keber-agama-an, yang menjadikan manusia Indonesia yang toleran. Patut diakui Pancasila merupakan warisan luar biasa dari pendiri bangsa, yang menjadikannya begitu berkarakter sehingga tidak termakan oleh zaman.
Meski demikian, upaya dalam mewujudkan nilai-nilai Pancasila (ke-lima sila-nya) masih terasa sangat lemah. Dampaknya bisa dirasakan dalam kehidupan sosial yang membuat orang itu puas atau tidak puas.
Bahkan Pancasila seakan-akan menanggung beban yang cukup pelik terhadap problemtika negara bangsa yang kian hari melahirkan berbagai macam aksi protes atas ketidakadilan dan kesewenang-wenangan para penguasa di negeri ini.
Pada titik inilah, pengejawantahan Pancasila menjadi semacam ironi yang jauh dari nilai-nilai adiluhungnya. Dalam pelbagai kesempatan, kita sering mengelu-elukan nilai luhur Pancasila, tapi dilain kesempatan makin sulit dirasakan dalam kehidupan sehari-hari, terutama ketika kita berhadapan dengan kenyataan sosial yang timpang.
Dalam satu dekade ini, saya melihat bahwa Pancasila lebih sering hadir dalam bentuk simbol, pidato, hingga kurikulum sekolah. Namun sayangnya, ia kehilangan akar di tengah masyarakat.
Baca Halaman Selanjutnya..



Komentar