Sagea dan Upaya Kriminalisasi “Save Sagea”

Oleh: Muhammad Hatta Abdan
(Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Khairun Ternate)
Industri ekstraktif yang bercokol di hampir semua daratan republik ini terus saja menghadirkan beragam polemik sosial yang selalu memberi keuntungan kepada korporasi dan oligarki.
Rakyat terus dihimpit dalam riuh janji, dan semua kerusakan yang diciptakan oleh industri pertambangan yang menjarah dan merusak semua mata rantai kehidupan.
Baca di: Koran digital Malut Post edisi Sabtu, 14 Februari 2026
Kita semua tahu apa yang sedang dibikin oleh negara hari ini, proyek-proyek strategis seperti PSN, hilirisasi nikel, dan lain-lain yang diindahkan bahasanya seolah-olah untuk mendongkrak ekonomi rakyat dan juga keberlanjutan ekologi hanyalah tipu daya semata.
Rakyat tidak benar-benar menjadi tempat segala kekayaan alam yang dikelolah itu kembali, kita tahu kongkalikong yang dimainkan oleh negara, semua yang direnggut dari akar kehidupan rakyat hari ini hanya untuk kepentingan modal.
Masifnya aktivitas pertambangan di wilayah-wilayah di Indonesia hari ini bukan saja menyebabkan ketimpangan ekologi, tapi juga menciptakan konflik sosial antara petani, masyarakat adat versus aparat TNI maupun kepolisian.
Konflik yang sering berujung pada intimidasi dan kriminalisasi kepada warga ini bertujuan untuk membekup kepentingan perusahan dan modal, rakyat yang melawan untuk mempertahankan tanahnya diperhadapkan dengan tekanan yang amat kuat oleh negara dan aparat lewat berbagai kebijakan timpang.
Indonesia terus saja mengoleksi kasus-kasus kriminialiasi di setiap tahun, banyak petani, masyarakat adat, dan aktivis pejuang lingkungan yang menjadi korban.
Baca Halaman Selanjutnya..




Komentar