Menghapus Jarak Antara Meja Dinas dan Bangku Sekolah

Dengan melihat langsung perjuangan guru dan semangat siswa di ruang kelas, pejabat dinas tidak hanya memahami data, tetapi juga merasakan makna dari setiap kebijakan.
Dari empati seperti inilah kebijakan yang berkeadilan sosial lahir, kebijakan yang tidak memerintah dari atas, tetapi bekerja bersama dari bawah.
Banyak pelajaran berharga yang tidak bisa dipelajari di ruang kantor. Kita belajar dari guru yang tetap mengajar dengan semangat di tengah keterbatasan, dari kepala sekolah yang berjuang menjaga mutu, hingga dari siswa yang tekun mengejar cita-cita.
UNESCO (1996) menegaskan bahwa pendidikan harus berlandaskan empat pilar, yaitu belajar untuk mengetahui, belajar untuk berbuat, belajar untuk hidup bersama, dan belajar untuk menjadi.
Kedekatan Dikbud dengan sekolah memastikan keempat pilar itu benar-benar hidup dalam praktik pendidikan kita. Akhirnya, “Dikbud Dekat dengan Sekolah” bukan sekadar slogan, melainkan paradigma kepemimpinan baru.
Ketika dinas hadir untuk belajar dari sekolah, bukan sekadar memerintah; ketika kebijakan lahir dari pemahaman, bukan asumsi; dan ketika pemimpinnya menempatkan diri sebagai pembelajar sejati, maka pendidikan tidak hanya dikelola, tetapi dihidupi. Di situlah kebijakan menemukan maknanya, dan pendidikan menemukan jiwanya. (*)



Komentar