Menghapus Jarak Antara Meja Dinas dan Bangku Sekolah

Kedekatan antara birokrasi dan sekolah juga sejalan dengan gagasan Mintzberg (1989), yang menekankan pentingnya kepemimpinan yang hadir langsung di lapangan untuk memahami proses nyata yang terjadi.
Seperti dilakukan AKA dalam kunjungannya ke sekolah, kehadiran pemimpin di lapangan bukan semata untuk pengawasan, melainkan untuk menyerap energi positif dari para pendidik dan memahami aspirasi mereka secara langsung. Dari kedekatan semacam inilah lahir kebijakan yang lebih kontekstual dan relevan.
Kehadiran dinas di sekolah juga merupakan wujud dari semangat learning organization sebagaimana dikemukakan Peter Senge dalam (1990). Menurut Senge, organisasi yang sehat adalah organisasi yang terus belajar dari pengalaman anggotanya.
Dinas Pendidikan yang dekat dengan sekolah bukan hanya mengawasi, tetapi ikut belajar dari praktik baik di lapangan. Itulah semangat yang dihidupkan AKA setelah dipercaya menahkodai Dinas Pendidikan dan Kebudayaan: menjadikan sebagai rumah belajar bagi semua, bukan sekadar lembaga administratif.
Pendidikan, seperti ditegaskan Ki Hadjar Dewantara, adalah proses menuntun tumbuhnya kodrat anak agar mereka mencapai keselamatan dan kebahagiaan. Pemimpin pendidikan harus mampu “ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani.”
Ketika AKA hadir di tengah-tengah sekolah, ia sedang meneladankan nilai itu: menjadi teladan di depan, penggerak di tengah, dan pemberi semangat di belakang. Kedekatan dengan sekolah, karenanya, bukan sekadar strategi kerja, melainkan panggilan moral seorang pemimpin pendidikan.
Empati adalah fondasi utama kedekatan itu. Paulo Freire (1970) menyebut proses ini sebagai tumbuhnya kesadaran kritis melalui perjumpaan dengan realitas sosial.
Baca Halaman Selanjutnya..



Komentar