Abubakar Jadi Simbol Keseriusan Pemerintahan Sherly–Sarbin
Dari Sekolah, Maluku Utara Dibangun

Kebijakan itu sederhana tapi berdampak besar. Selama ini, uang komite menjadi salah satu penghalang anak-anak dari keluarga tidak mampu untuk tetap bersekolah.
Dengan dihapusnya beban itu, banyak keluarga yang kembali berani menyekolahkan anaknya. Menurut data Dapodik per Oktober 2025, masih ada 38.076 anak tidak sekolah (ATS) di Maluku Utara.
Angka ini menjadi fokus utama Abubakar, yang segera merancang Gerakan Mengembalikan Anak ke Sekolah (GEMAS Malut).
Program ini tidak berhenti pada kampanye moral semata, tapi dilengkapi langkah konkret seperti pembukaan Sekolah Terbuka dan perluasan pendidikan kesetaraan Paket A, B, dan C. Ia juga memastikan setiap kabupaten/kota memperluas layanan belajar alternatif agar tidak ada anak yang tertinggal.
Lebih jauh, Abubakar memahami bahwa kualitas pendidikan tidak akan meningkat tanpa peningkatan mutu guru. Karenanya, ia menyiapkan program profiling guru dan sekolah bekerja sama dengan Sampoerna Foundation dan sejumlah NGO nasional.
Langkah ini penting untuk memetakan kompetensi aktual guru di lapangan, sehingga pelatihan yang dilakukan benar-benar tepat sasaran. Rencananya, Uji Kompetensi Guru (UKG) akan digelar akhir tahun ini sebagai dasar penentuan program pelatihan tahun 2026.
Yang menarik, Abubakar tidak hanya bekerja di belakang meja. Ia dikenal aktif turun langsung ke lapangan, meninjau sekolah, berdialog dengan guru dan kepala sekolah.
Serta menghadiri upacara setiap Senin secara bergilir di berbagai daerah - mulai dari Ternate, Tidore, hingga ke wilayah terpencil seperti Kepulauan Sula dan Morotai. Dedikasi seperti ini jarang ditemukan dalam birokrasi pendidikan di daerah lain.
Baca Halaman Selanjutnya..




Komentar