Paradigma Pembangunan: Dari Reformasi Ke Transformasi

Alfakir Fardal Rasudin

Tampaknya studi banding yang dilakukan oleh Gubernur terpilih berdiametral pada pembangunan infrastuktur dan sudah tentu berangkat dari paradigma strukturalis dibandingkan menggunakan pendekatan paradigma kritis yang membersamai masyarakat akar rumuput.

Untuk sesi tulisan ini, ingin penulis sampaikan, unsur yang paling subtantif dalam pembangunan (Devlomentalisme) adalah unsur manusianya.

Pembangunan yang hanya menekankan pada aspek infrastrukrur dan benda-benda tentu sangat rentan terjadi dehumanisasi, marginalisasi hingga kriminalisasi masyarakat akar rumput yang mestinya menjadi tujuan utama dalam pembangunan.

Bagaimana nantinya pembangunan Maluku Utara 5 tahun ke depan ? apakah kita mengalami humanisasi ataukah dehumanisasi? apakah pembangunan mengutamakan kesejahtraan masyarakat atau berpihak kepada penguasa? dan segudang pertanyaan tentang kebijakan pemerintah.

Mestinya pertanyaan-pertanyaan seperti itu mencuat dalam ruang publik dan ruang interaksi publik, kenapa demikian ? karena kesadaran tranformasi adalah kunci pembangunan dan perubahan sosial.

Dengan keterlibatan semua kalangan yang bersandar pada kesadara kritik sekaligus beriringan dengan pengambilan sikap dan gerak sangat mungkin diwujudkan perubahan sosial yang setara, adil, sejahtra, dan berkemajuan.

Harapan penulis kesadaran transformasi dapat direduksi secara sosial untuk mewujudkan pembangunan Bangsa yang demoktratis dan berkemajuan khusunya di Maluku Utara yang kita cinta ini. (*)
Wallahulmuafik Illah Aqwamitthoriq

Opini ini sudah terbit di koran Malut Post edisi. Rabu, 11 Desember 2024
Link Koran Digital: https://www.malutpostkorandigital.com/2024/12/rabu-11-desember-2024.html

Selanjutnya 1 2 3 4 5

Komentar

Loading...