Jalan Permukiman Sofifi Mulai Dibenahi, Disperkim Malut Dorong Peningkatan

IMG 20260826 WA0002
Tim Disperkim saat melakukan peninjauan di Jalan Permukiman Guraping.

Sofifi, malutpost.com – Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperkim) Provinsi Maluku Utara (Malut) meninjau sejumlah proyek pembangunan jalan permukiman di Ibu Kota Sofifi.

Peninjauan dilakukan untuk memastikan progres pekerjaan sekaligus mengidentifikasi kendala yang ditemui di lapangan. Terdapat tiga proyek jalan yang ditinjau, yakni Jalan Perkuburan Galala dengan pagu anggaran Rp199,5 juta, Jalan Permukiman Guraping di RT 002 dan RT 015 berupa pengerasan sirtu dengan pagu Rp239,5 juta, serta Jalan Permukiman Somahode dengan pagu Rp239,5 juta.

Peninjauan dilakukan Kepala Disperkim Malut Musrifah Alhadar bersama Kepala Bidang Prasarana, Sarana dan Utilitas Umum (PSU) Zainudin, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), serta pendamping hukum dari Polda Malut, Senin (24/8/2026) lalu.

Kepala Bidang PSU Disperkim Malut, Zainudin, mengatakan pembangunan Jalan Perkuburan Galala memiliki panjang 170 meter. Secara fisik, pekerjaan tersebut telah rampung 100 persen sejak dimulai pada Juni 2026. Namun, realisasi keuangannya baru mencapai 30 persen.

Sementara itu, pekerjaan Jalan Permukiman Guraping yang dimulai pada awal Juni 2026 memiliki panjang lebih dari 300 meter. Meski realisasi keuangan baru sebatas pembayaran uang muka, pekerjaan fisiknya telah selesai 100 persen dan kini memasuki tahap Provisional Hand Over (PHO) atau penyerahan sementara hasil pekerjaan.

“Dalam proses PHO, masih ada perbaikan-perbaikan. Jika ada pekerjaan yang kurang atau belum sesuai, akan disempurnakan oleh pihak penyedia,” kata Zainudin saat diwawancarai Malut Post di ruang kerjanya.

Untuk Jalan Permukiman Somahode, kata dia, pekerjaan fisiknya juga telah mencapai 100 persen dengan panjang 516 meter. Namun, realisasi keuangannya masih nol persen karena saat ini Disperkim tengah memproses pencairan pembayaran atas pekerjaan tersebut.

Dijelaskannya, terjadi perbedaan panjang jalan Guraping dan Somahode, meski keduanya memiliki pagu anggaran yang sama. Kondisi tersebut disebabkan karakteristik lahan di Guraping yang merupakan kawasan rawa sehingga membutuhkan ketebalan material sirtu lebih besar.

“Dalam perencanaan, ketebalan sirtu rata-rata 30 sentimeter. Namun, di lapangan ada yang membutuhkan lebih dari itu, terutama di Guraping. Bahkan ada yang mencapai satu meter, meski rata-rata sekitar 60 sentimeter. Jadi kita sesuaikan dengan kondisi eksisting,” jelasnya.

Menurut dia, berdasarkan perencanaan awal, jalan di Guraping ditargetkan memiliki panjang sekitar 400 meter dengan asumsi ketebalan 30 sentimeter. Namun, karena kebutuhan material lebih banyak akibat kondisi tanah, panjang jalan akhirnya menyesuaikan volume pekerjaan yang tersedia.

Zainudin menambahkan, ketiga proyek tersebut dilaksanakan melalui mekanisme pengadaan langsung, bukan tender. Penyedia yang ditunjuk merupakan pihak ketiga yang dinilai kompeten dan memiliki klasifikasi sesuai bidang pekerjaan.

“Realisasinya sudah sesuai target waktu. Manfaatnya juga sangat positif bagi masyarakat,” ujarnya.

Dia menyebut, pembangunan jalan permukiman tersebut dilakukan secara bertahap. Untuk saat ini, pekerjaan difokuskan pada pengerasan menggunakan sirtu. Ke depan, Disperkim akan mengusulkan peningkatan kualitas jalan hingga lapen maupun hotmix, menyesuaikan kemampuan anggaran daerah.

“Prinsipnya tetap kita usulkan setiap tahun. Sebelumnya kami usulkan sampai tahap lapen, tetapi karena kondisi keuangan belum memungkinkan, baru bisa sampai sirtu. Mudah-mudahan ke depan ada alokasi anggaran sehingga jalan-jalan ini bisa ditingkatkan,” pungkasnya. (cr-01)

Komentar

Loading...