Artikel Ilmiah Populer

Kepiting Kelapa, Teknologi Tepat Guna, dan Harapan Ekonomi Masyarakat Pesisir
Pemberdayaan Kelompok Penangkar Kepiting Kelapa (Birgus latro) melalui Domestikasi Berbasis Teknologi Tepat Guna di Desa Gemia, Kabupaten Halmahera Tengah

Tahun Pelaksanaan: 2026
Perguruan Tinggi: Universitas Khairun
Skema: Program Kemitraan Masyarakat (PKM) BIMA

TIM PKM
(Dr. Mufti Abdul Murhum, S.Pi.,MP)
(Dr. Waode Munaeni, S.Pi.,M.Si)
(Ir.Aqshan Sadikin Nurdin, S.P.,M.Sc. IPM)

SKEMA PEMBERDAYAAN BERBASIS MASYARAKAT
RUANG LINGKUP PEMBERDAYAAN KEMITRAAN MASYARAKAT
DIREKTORAT PENELITIAN DAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT
DIREKTORAT JENDERAL RISET DAN PENGEMBANGAN
KEMENTERIAN PENDIDIKAN TINGGI, SAINS, DAN TEKNOLOGI

Kepiting Kelapa, Teknologi Tepat Guna, dan Harapan Ekonomi Masyarakat Pesisir

Kepiting kelapa (Birgus latro) bukan hanya satwa unik yang hidup di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil. Bagi sebagian masyarakat di wilayah Patani dan Patani Utara, kepiting kelapa juga merupakan komoditas yang memiliki nilai ekonomi. Namun, ketika pemanfaatannya masih sangat bergantung pada hasil tangkapan alam, masyarakat berhadapan dengan ketidakpastian jumlah tangkapan, keterbatasan pengelolaan, dan tantangan menjaga keberlanjutan sumberdaya. Penelitian di Maluku Utara menunjukkan bahwa karakteristik habitat dan kondisi lingkungan merupakan bagian penting dalam pengelolaan B. latro [1,2].

Di tengah kondisi tersebut, kelompok penangkar di Desa Gemia, Kabupaten Halmahera Tengah, mulai memperoleh pendekatan baru melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) tahun 2026. Program ini mendorong domestikasi kepiting kelapa dengan memanfaatkan teknologi tepat guna Birgus Terra Box (BTB). Tujuannya bukan sekadar membuat wadah, tetapi membangun kemampuan masyarakat untuk memelihara kepiting secara lebih terkontrol, mencatat perubahan, dan pada akhirnya mengembangkan usaha yang lebih berkelanjutan. Secara regional, penelitian di Pulau Liwo juga menempatkan *B. latro* sebagai sumber daya yang memiliki nilai ekologis dan ekonomi serta memerlukan pengelolaan berbasis masyarakat [3].

Dari Sumber Daya Pesisir Menjadi Usaha Masyarakat

Data profil usaha dari wilayah Patani menunjukkan bahwa usaha kepiting kelapa masih dilakukan dalam skala kecil. Kelompok Salasa Jamalu terdiri dari enam orang dan menangkap kepiting kelapa di Pulau Mor dan Tanjung Nglopopo. Hasil tangkapannya berkisar 4–10 ekor setiap kali penangkapan, dengan frekuensi sekitar tiga kali sebulan. Kepiting dilaporkan dijual sekitar Rp150.000 per ekor, dengan salah satu tujuan pemasaran berada di Ternate.

Kelompok lainnya, Almin Hamdi dan Pauce Aliun, terdiri dari dua orang. Lokasi penangkapan mereka meliputi Desa Santosa, Weilong, dan Poton. Hasil tangkapan rata-rata 5–6 ekor setiap kali penangkapan, dengan frekuensi satu sampai dua kali per bulan. Produk dijual kepada masyarakat dengan harga sekitar Rp150.000 per ekor, dan frekuensi penangkapan bergantung pada permintaan pembeli.

Gambaran tersebut memperlihatkan bahwa kepiting kelapa sudah memiliki pasar dan nilai jual nyata. Namun, model usaha seperti ini masih sangat dipengaruhi oleh keberhasilan penangkapan alam dan permintaan pasar. Karena itu, upaya domestikasi dapat menjadi salah satu jalan untuk memperluas pilihan usaha masyarakat, selama dilakukan dengan memperhatikan kelestarian sumberdaya.

Ketika Wadah Penangkaran Lama Belum Cukup

Masyarakat sebenarnya sudah mencoba memelihara kepiting kelapa menggunakan wadah sederhana. Data lapangan menunjukkan adanya penggunaan kotak dari papan kayu dan kolam beton. Wadah beton dilengkapi batu karang, kayu, dan sabut kelapa sebagai tempat berlindung.

Namun, kedua model tersebut dilaporkan memiliki kelemahan. Kepiting dapat keluar dengan menggigit papan dan membuat lubang, memanjat dinding kolam, atau menggali bagian bawah kolam. Pada wadah papan yang terlalu sempit, ruang gerak terbatas dan kondisi tersebut dikhawatirkan memengaruhi fisiologi dan pertumbuhan. Sementara itu, kepadatan tinggi dalam kolam beton dapat menimbulkan persaingan ruang dan kanibalisme, terutama ketika kepiting mengalami molting. Pemberian pakan juga sulit dikontrol ketika banyak individu dipelihara bersama. Permasalahan tersebut juga mendukung pentingnya pendekatan wadah individual, tempat berlindung, air, dan pengaturan pakan sebagaimana dilaporkan pada penelitian pemeliharaan B. latro sebelumnya [4,5].

Mengapa Birgus Terra Box?

Persoalan tersebut menjadi latar penting bagi penerapan Birgus Terra Box (BTB) dalam program PKM di Desa Gemia. Teknologi ini diarahkan untuk menciptakan ruang pemeliharaan yang lebih terkontrol, sekaligus memberi kesempatan kepada kelompok untuk belajar langsung merakit dan mengoperasikannya.

Gambar 1. Desain Wadah Birgus Terra Box untuk peangkaran/budidaya B. latro

Pada 21 Juli 2026 dilakukan pelatihan manajemen penangkaran dan pendampingan konstruksi BTB. Kegiatan dilanjutkan dengan perakitan dan penempatan wadah pada 22–25 Juli 2026 di lokasi penangkaran kelompok yang memiliki ruangan berukuran 6 × 4 meter. Dalam proses tersebut, kelompok terlibat dalam pembuatan ventilasi, sekat ruang persembunyian, ruang makan dan minum, pemasangan wadah pakan dan air, pengisian substrat, pemasangan rak, pembersihan ruang, pemasangan lampu, dan pembuatan pintu ruang penangkaran.

Hasilnya, sebanyak 25 unit BTB disiapkan. Dua puluh unit ditujukan untuk pembesaran juvenil, sedangkan lima unit digunakan untuk pembesaran dan perawatan induk. Substrat yang digunakan terdiri atas 70 persen pasir dan 30 persen tanah liat.

Dari Laboratorium ke Masyarakat: Sebuah Rangkaian Riset dan Pengabdian

Kegiatan pemberdayaan di Desa Gemia merupakan bagian dari rangkaian penelitian dan pengembangan yang telah dilakukan sebelumnya mengenai domestikasi, pemeliharaan, dan nutrisi kepiting kelapa. Penelitian Murhum, Wahono, dan Widiyanti pada 2019 menunjukkan bahwa pakan buatan dapat dikonsumsi oleh Birgus latro dan berpotensi memengaruhi proses molting. Dalam penelitian tersebut, kepiting dipelihara secara individual menggunakan wadah yang dirancang agar kondisi pemeliharaan mendekati lingkungan alaminya sekaligus mencegah kepiting keluar dari wadah (rancangan awal wadah Birgus Terra Box). Formula pakan dengan kadar protein 27% menunjukkan persentase molting tertinggi dibandingkan perlakuan lain dan kontrol daging kelapa segar [6].

Pengembangan penelitian kemudian diarahkan pada aspek nutrisi yang lebih spesifik. Murhum, Hariyati, Yuniarti, dan Prihanto pada 2025 menguji pakan buatan dengan berbagai kadar tepung kelapa pada B. latro dan menganalisis profil asam lemak serta respons enzim pencernaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan dengan 40% tepung kelapa memberikan respons tinggi pada beberapa parameter asam lemak dan aktivitas lipase, sehingga memperkuat prospek bahan baku kelapa dalam pengembangan pakan untuk pemeliharaan kepiting kelapa [7].

Kedua penelitian tersebut menunjukkan perkembangan roadmap yang jelas. Tahap awal berfokus pada kemampuan pemeliharaan dan respons kepiting terhadap pakan; tahap berikutnya memperdalam aspek nutrisi dan fisiologi; sedangkan kegiatan PKM Desa Gemia membawa pengetahuan tersebut ke lingkungan masyarakat melalui penerapan teknologi, pelatihan, pendampingan, monitoring, dan penguatan kapasitas kelompok.

Dengan demikian, Birgus Terra Box dalam PKM ini tidak diposisikan sebagai teknologi yang berdiri sendiri, tetapi sebagai bagian dari proses translasi hasil penelitian menjadi praktik masyarakat. Rangkaian tersebut dapat dipandang sebagai alur: penelitian biologis dan domestikasi → penelitian nutrisi dan fisiologi → pengembangan teknologi pemeliharaan → penerapan teknologi di masyarakat → validasi lapangan → pengembangan model penangkaran yang layak secara biologis, ekonomis, dan berkelanjutan.

Keterkaitan roadmap juga diperkuat oleh penelitian Widiyanti dkk. (2015) di Pulau Liwo, Maluku Utara, yang menunjukkan nilai ekologis dan ekonomi B. latro serta menekankan perlunya pengelolaan jumlah dan ukuran tangkapan dengan melibatkan masyarakat dan kelembagaan terkait [3]. Dengan latar regional tersebut, PKM Desa Gemia menjadi tahap aplikatif untuk membawa agenda pengelolaan sumber daya dari konteks penelitian ke kapasitas masyarakat.

Pemberdayaan Dimulai dari Pengetahuan

Sebelum teknologi diterapkan, program dimulai dengan sosialisasi dan pelatihan kapasitas mitra pada 15 Mei 2026 di Kantor Desa Gemia. Kegiatan dihadiri unsur Pemerintah Desa, tokoh masyarakat, serta ketua dan anggota kelompok penangkar. Materi yang diberikan mencakup status sumberdaya dan populasi kepiting kelapa serta upaya penangkaran dan domestikasi di dunia dan Indonesia.

Tahap ini penting karena domestikasi tidak cukup dipahami sebagai memindahkan hewan ke dalam wadah. Kelompok perlu memahami alasan penggunaan wadah tertentu, cara mengelola kepiting, dan pentingnya melakukan kegiatan secara lestari. Dengan demikian, teknologi dan pengetahuan berjalan bersama.

Gambar 1. Sosialisasi dan penguatan kapasitas di Kantor Desa Gemia: penyampaian materi; (dokumentasi bersama peserta dan pemangku kepentingan. Sumber: dokumentasi Tim PKM, 2026.

Belajar Merawat: Pakan, Air, dan Lingkungan

Sejak 26 Juli 2026, kelompok mulai menjalankan pemantauan dan perawatan kepiting kelapa di dalam BTB. Pakan yang digunakan adalah daging kelapa segar. Air segar disiapkan dengan komposisi 50 persen air laut dan 50 persen air tawar. Pembersihan dan pergantian pakan serta air dilakukan setiap 6–7 hari. Penggunaan kelapa sebagai pakan juga memiliki dasar dari penelitian domestikasi sebelumnya yang menunjukkan preferensi dan pemanfaatan kelapa dalam pemeliharaan B. latro [4,5].

Gambar 2. Wadah Birgus Terra Box yang telah siap dan terisi; 1 individu kepiting kelapa, pakan kelapa dan air minum.

Gambar 3. Perawatan kepiting kelapa melalui pemberian pakan, penyediaan air, dan pengelolaan wadah.

Kelompok juga mulai memantau pH, suhu, salinitas air minum, kelembaban udara, dan suhu ruang. Panjang karapas dan berat kepiting direncanakan diukur setiap 30 hari. Semua data lingkungan, pertumbuhan, dan kendala teknis dicatat dalam logbook. Jadwal kerja juga telah disepakati untuk membagi tanggung jawab antaranggota. Pemantauan tersebut relevan dengan penelitian habitat B. latro di Maluku Utara yang mencakup suhu, kelembapan, substrat, dan kondisi mikrohabitat [1,2].

Apa yang Berubah pada Kelompok?

Pada tahap kemajuan program, perubahan paling nyata terlihat pada kapasitas teknis kelompok. Masyarakat bukan hanya menerima informasi, tetapi ikut merakit BTB, menata ruang penangkaran, dan mulai melakukan pemeliharaan. Kelompok juga mulai memiliki pola monitoring dan pencatatan yang lebih terstruktur.

Dengan pendekatan tersebut, teknologi menjadi bagian dari proses belajar masyarakat. Nilai program bukan semata-mata pada 25 unit BTB yang tersedia, tetapi pada kemampuan kelompok untuk menggunakannya, merawatnya, mengenali kendala, dan mengembangkan pengelolaan secara bertahap.

Mengapa Domestikasi Penting secara Ekonomi?

Pola usaha yang masih bergantung pada hasil tangkapan alam memiliki batas. Hasil tangkapan dapat berubah, sementara permintaan pasar juga tidak selalu sama. Pada sisi lain, pengalaman masyarakat menunjukkan bahwa pemeliharaan sederhana masih menghadapi masalah kepiting kabur, keterbatasan ruang, kanibalisme, dan kontrol pakan. Pertimbangan keberlanjutan tersebut sejalan dengan penelitian di Pulau Liwo yang merekomendasikan pengelolaan pemanfaatan dengan melibatkan masyarakat dan lembaga terkait [3].

Domestikasi melalui BTB menawarkan arah yang berbeda: masyarakat berusaha membangun komponen produksi yang lebih terkontrol. Secara sederhana, alurnya dapat dibayangkan sebagai seleksi dan pengelolaan juvenil atau induk, pemeliharaan dalam BTB, monitoring pertumbuhan dan kondisi lingkungan, kemudian pemanenan dan pemasaran sesuai hasil serta ketentuan yang berlaku.

Jika tingkat kelangsungan hidup dan pertumbuhan nantinya menunjukkan hasil yang baik, sistem ini berpotensi memberi kelompok stok kepiting yang lebih terencana, sehingga peluang usaha tidak semata-mata ditentukan oleh keberhasilan menangkap kepiting pada hari tertentu.

Dari Konservasi ke Penghidupan Berkelanjutan

Program PKM di Desa Gemia memperlihatkan bahwa konservasi dan ekonomi tidak harus diposisikan sebagai dua kepentingan yang bertentangan. Pengelolaan yang lebih baik justru dapat membuka ruang bagi pemanfaatan yang lebih terukur. Kuncinya adalah memastikan bahwa teknologi digunakan untuk mengurangi kehilangan, meningkatkan kontrol pemeliharaan, memperbaiki pencatatan, dan menjaga agar usaha tidak mendorong eksploitasi sumberdaya secara berlebihan.

Pada tahap selanjutnya, kelompok perlu memperkuat SOP penangkaran, monitoring berkala, evaluasi kondisi BTB, pencatatan pertumbuhan, serta perencanaan pemanenan dan pemasaran. Pemasaran offline maupun online dapat dikembangkan setelah tersedia hasil pemeliharaan yang konsisten dan strategi penjualan yang sesuai.

Pesan dari Desa Gemia

Pelajaran penting dari kegiatan ini bukan hanya bahwa kepiting kelapa dapat ditempatkan di dalam wadah. Pelajarannya adalah bahwa teknologi menjadi bermakna ketika masyarakat mampu menggunakannya secara mandiri. Di Desa Gemia, proses itu sedang dibangun melalui pengetahuan, keterampilan, konstruksi BTB, pemeliharaan, monitoring, dan pencatatan.

Perjalanan menuju usaha penangkaran yang mandiri masih panjang. Tetapi langkah awal sudah terlihat: masyarakat mulai bergerak dari pola pemanfaatan yang sangat bergantung pada hasil alam menuju upaya domestikasi yang lebih terencana. Jika data biologis dan ekonomi dapat terus dikumpulkan dengan baik, pengalaman Desa Gemia dapat menjadi pembelajaran penting bagi pengembangan penangkaran kepiting kelapa berbasis masyarakat di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil.

Sumber Bahan Artikel

Artikel disusun berdasarkan dokumen laporan sosialisasi dan pelatihan kapasitas mitra tanggal 15 Mei 2026; laporan pelatihan manajemen penangkaran dan pendampingan konstruksi BTB tanggal 21–25 Juli 2026; laporan aktivitas pemantauan dan perawatan mulai 26 Juli 2026; serta profil usaha penangkapan dan penjualan kepiting kelapa di wilayah Patani dan Patani Utara.

Daftar Pustaka

  1. Supyan S, Sulistiono S, Riani E. Karakteristik habitat dan tingkat kematangan gonad kepiting kelapa (Birgus latro) di Pulau Uta, Propinsi Maluku Utara. Aquasains: Jurnal Ilmu Perikanan dan Sumberdaya Perairan. 2013;2(1):73–82.
  2. Serosero RH, Suryani S, Rina R. Karakteristik habitat dan pola pertumbuhan kepiting kelapa (Birgus latro) di Pulau Ternate dan Kabupaten Halmahera Barat Provinsi Maluku Utara. Depik. 2016;5(2). doi:10.13170/depik.5.2.4350.
  3. Widiyanti SE, Marsoedi, Sukoso, Setyohadi D. Resource management of coconut crab (Birgus latro) in Liwo Island, North Maluku of Indonesia. Journal of Biodiversity and Environmental Sciences. 2015;6(5):343–351.
  4. Sulistiono, Refiani S, Tantu FY, Muslihuddin. Preliminary study on domestication of coconut crab (Birgus latro). Jurnal Akuakultur Indonesia. 2007;6(2):183–189. doi:10.19027/jai.6.183-189.

Komentar

Loading...