Pelajar Jadi Agen Perubahan: Poltekkes Kemenkes Ternate Bangun Budaya PHBS di Sekolah

f2e1a59e 3ba4 4800 9479 dca6796ea312
Tim pengabdian masyarakat bersama para guru dan siswa, saat melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat di sekolah

Ternate, Malutpost.com– Setiap anak sekolah (siswa) memiliki peran besar dalam membentuk kebiasaan dan budaya, terutama di lingkungan sekolah. Apa yang mereka lakukan sering menjadi contoh bagi teman-teman di sekitarnya. Karena itu, membangun perilaku hidup bersih dan sehat tidak cukup hanya melalui aturan atau imbauan. Dibutuhkan keterlibatan aktif siswa, agar pesan kesehatan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari di sekolah.

Berangkat dari semangat tersebut, Poltekkes Kemenkes Ternate  melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Kegiatan ini mulai sejak tanggal 13 sampai 25 Mei 2026. Poltekkse Ternate membangun kesadaran tersebut melalui program pembentukan budaya dan karakter siswa tentang Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di SMP Negeri 1 Kota Ternate, SMP Negeri 6 Kota Ternate, dan SMP Negeri 7 Kota Ternate.

Program ini tidak hanya berfokus pada penyuluhan kesehatan biasa. Siswa akan dilatih dan dibentuk menjadi Tim PHBS sekolah, yang berperan sebagai penggerak kampanye hidup bersih dan sehat di lingkungan sekolah masing-masing. Pendekatan ini dipilih karena siswa cenderung lebih mudah menerima pesan dari teman sebaya yang mereka kenal dan percaya.

“Kami ingin siswa bukan hanya mengetahui apa itu PHBS, tetapi mampu menjadi contoh nyata di lingkungan sekolah. Ketika siswa bergerak bersama, perubahan biasanya lebih mudah terjadi,” ucap Rusny, ketua tim pengabdian Masyarakat saat melakukan pengabdian kepada masyarakat di SMP 1 Kota Ternate (18/5).

Hal ini juga diungkapkan Kartini, anggota timpengabdian kepada masyarakat saat di SMP N 7 Kota Ternate. Kartini menjelaskan, sekolah memiliki pengaruh besar terhadap perilaku remaja. Jika budaya hidup bersih dan sehat dibangun sejak dini, kebiasaan itu bisa terbawa hingga dewasa. “Kami berharap siswa tidak hanya memahami PHBS secara teori, tetapi benar-benar menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.

Tim PHBS akan mengampanyekan seluruh indikator PHBS kepada teman-teman mereka di kelas. Mulai dari kebiasaan mencuci tangan pakai sabun, menjaga kebersihan lingkungan sekolah, membuang sampah pada tempatnya, menjaga kebersihan jamban, mengonsumsi jajanan sehat, hingga membangun kebiasaan aktivitas fisik yang rutin. Kampanye dilakukan dengan pendekatan yang lebih dekat dengan dunia remaja. Seperti edukasi kelas, role play, poster kreatif, hingga aksi kebersihan bersama di lingkungan sekolah.

Untuk mendukung keberlanjutan program, penyelenggara juga memberikan investasi kepada mitra sekolah berupa timbangan berat badan, microtoice untuk pengukuran tinggi badan, buku panduan PHBS, poster edukasi PHBS, serta berbagai media pendukung lainnya. Bantuan tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan sekolah dalam memantau kesehatan siswa sekaligus memperkuat budaya hidup bersih dan sehat secara berkelanjutan.

Program ini menjadi bentuk investasi jangka panjang dalam pembangunan kesehatan masyarakat. Upaya promotif dan preventif seperti PHBS sering kali terlihat sederhana, tetapi memiliki dampak besar dalam mencegah berbagai masalah kesehatan pada usia sekolah. Lebih dari sekadar program kesehatan, pembentukan Tim PHBS turut melatih rasa tanggung jawab, kepemimpinan, komunikasi, dan kepedulian sosial siswa. Mereka tidak lagi hanya menjadi penerima informasi, tetapi tumbuh sebagai agen perubahan yang mampu mengajak teman-temannya membangun lingkungan sekolah yang lebih sehat dan nyaman.

“Membangun sekolah sehat memang tidak bisa dilakukan dalam satu hari. Namun perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil yang dilakukan bersama. Melalui gerakan ini, para pelajar di Kota Ternate sedang menunjukkan bahwa perubahan dapat dimulai dari diri sendiri, dari ruang kelas, dan dari kebiasaan kecil yang dilakukan setiap hari,” tandasnya. (*/kun)

Komentar

Loading...