Gerakan Pemuda dari Masa Budi Utomo hingga Kongres Sedunia di Amerika

Politik reaksioner Gubernur Jenderal de Jonge (terutama tahun 1932-1937) tidak hanya melumpuhkan gerakan partai-partai politik tetapi juga organisasi-organisasi pemuda. Artikel 153 bis dan ter banyak menimbulkan korban di kalangan pemuda.
Adanya ordonansi sekolah-sekolah liar juga menjadi hal yang sangat menghebohkan. Melihat hal ini Indonesia Muda mencoba mengadakan kongres pada tahun 1936, tetapi gagal karena tidak ada izin pemerintah. Barulah pada tahun 1938 diadakan Kongres Pemuda Indonesia III di Yogyakarta.
Hasilnya adalah Federasi Oerganisasi-organiasi pemuda yang berpusat di Jakarta. Kongres juga memutuskan mengenai kata “kemerdekaan Nusa dan Bangsa” diganti dengan “menjunjung martabat Nusa dan Bangsa”. Ini disebabkan karena kata “kemerdekaan” tersebut tabu bagi pemerintah Belanda.
Di samping organisasi-organisasi pemuda yang bersifat nasional, juga ada organisasi yang berdasarkan keagamaan seperti: Jong Islamieten Bond, Anshor Nahdatul Ulama, Pemuda Muhammadiyah, Persatuan Pemuda Kristen, dan Persatuan Pemuda Katolik, yang kebanyakan adalah merupakan turunan dari organisasi yang lebih besar.
Juga ada organisasi yang lebih terbatas lingkungannya seperti: Voor Onze Jeugd (VOJ) yang kebarat-baratan, Unitas Studiosorum Indonesiaensis (USI) merupakan pecahan dari PPPI, Persrikatan Pemuda Taman Siswa (berdiri tahun 1933) yang cukup berpengaruh, dan berbagai organisasi wanita yang tidak begitu menonjol.
Gerakan Pemuda Indonesia tidak hanya terbatas di dalam negeri saja tetapi juga di luar negeri terutama di Eropa dan Negara-negara Arab, namun yang paling menonjol adalah Perhimpunan Indonesia, berpusat di negeri Belanda yang banyak melahirkan pemimpin bangsa di kemudian hari.
Konferensi-konferensi internasional seperti konferensi pemuda internasional (Paris 1937), Konferensi Student Internasional (Paris 1937), Konferensi antara mahasiswa Belanda, Inggeris, Cina, India dan Indonesia (Leiden 1938), dan Kongres Pemuda sedunia (di AS 1939) yang dihadiri oleh utusan-utusan pemuda Indonesia.
Kehadirannya tidak hanya mempropagandakan nama Indonesia diluar negeri tetapi juga menggalang persahabatan dengan pemimpin-pemimpin pemuda bangsa lain dalam usaha mencapai Indonesia Merdeka. (*)


Komentar