Jangan Mengkambinghitamkan Nomaden atas Pembunuhan Ali Daud

Muhammad Kamarullah

Dan dari karakteristik itu, Polda lalu menyimpulkan bahwa pembunuhan AD tidak dilakukan oleh Sibenpopo, lalu “menuding” pelakunya adalah kelompok nomaden.

Kesimpulan Polda terdengar aneh. Sebab apakah kemampuan bergerak di hutan merupakan identitas eksklusif kelompok tertentu? Tentu saja tidak sesederhana itu. Sebab orang berburu di hutan juga mengenal medan.

Orang yang berkebun di kawasan hutan juga mengetahui jalur. Bahkan masyarakat yang sejak lama beraktivitas di kawasan tersebut juga memiliki pengetahuan mengenai lingkungan sekitarnya. Oleh karena itu, mobilitas di hutan tidak sama dengan identitas pelaku.

Begitu juga dengan penemuan Bivak radius dua kilometer dari TKP. Bivak itu adalah petunjuk. Namun, yang patut digali adalah siapa pembuat Bivak, kapan digunakan, dan apakah terdapat bukti biologis atau forensik yang menghubungkan Bivak dengan pelaku pembunuhan? Ingat bahwa petunjuk harusnya menjadi petunjuk saja, sampai ia terhubung dengan pelaku.

Hal yang sama juga pada penemuan anak panah tradisional. Anak panah itu tetap saja dapat menjadi petunjuk penting. Lalu, agar ia menjadi bukti yang kuat untuk identifikasi kelompok tertentu, mestinya harus ada jawaban atas pertanyaan bahwa, siapa pembuatnya, siapa yang menggunakannya, kapan dibuat, dan apakah ada hubungan langsung dengan pembunuhan AD?

Itulah kegelisahan warga Banemo, kendatipun dari semua hasil konferensi pers Polda memicu ratusan pertanyaan di kepala warga Banemo yang tak mungkin diurai satu per satu di sini.

Selain itu, Polda juga menjelaskan bahwa perkara kasus pembunuhan AD ini berbeda dengan kematian Silas Jiko (SJ) dan konflik Banemo-Sibenpopo. Tentu itu harus dihormati. Dan dalam perkara SJ, polisi juga telah menetapkan sejumlah tersangka yang seluruhnya adalah warga Banemo.

Dan justru karena dua perkara itu berbeda, maka masyarakat berhak meminta agar masing-masing perkara dibuktikan dengan bukti masing-masing. Jangan karena sebuah konflik terjadi, maka setiap peristiwa sebelumnya dipaksakan masuk ke dalam satu narasi.

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2 3 4

Komentar

Loading...