Membaca Tes Kemampuan Akademik di Daerah 3T dalam Kacamata Filosofi

John Paul Sipondak

Pembacaan Freire mengingatkan bahwa objektivitas pengukuran tidak identik dengan keadilan pendidikan secara keseluruhan. Skor yang terstandar dapat berguna, tetapi pendidikan tidak boleh direduksi menjadi skor.

Sebaliknya, pembacaan Heifetz mencegah kritik berhenti pada identifikasi ketimpangan: pemimpin perlu mendiagnosis bagian mana yang dapat diselesaikan secara teknis dan bagian mana yang menuntut perubahan kapasitas, praktik, serta pembelajaran kolektif.

Dengan demikian, pertanyaan produktif bukan 'TKA atau tidak TKA', melainkan bagaimana TKA dilaksanakan sehingga tujuan standardisasi tercapai tanpa mengabaikan konteks, dan bagaimana sekolah menggunakan asesmen sebagai informasi tanpa membiarkannya mendominasi keseluruhan tujuan pendidikan. Kerangka Freire–Heifetz menawarkan cara untuk mempertahankan ketegangan tersebut secara analitis.

Pemikiran Paulo Freire dan Ronald Heifetz tetap relevan untuk membaca pelaksanaan TKA di daerah 3T, tetapi relevansinya terletak pada fungsi analitis yang berbeda. Freire membantu menilai dimensi humanisasi, dialog, konteks, praxis, dan risiko reduksi pendidikan menjadi performa tes.

Heifetz membantu mendiagnosis kombinasi persoalan teknis dan tantangan adaptif serta peran kepemimpinan dalam memobilisasi pembelajaran organisasi. Integrasi keduanya menghasilkan prinsip bahwa standardisasi akademik dapat berjalan bersama implementasi yang sensitif konteks.

Daerah 3T tidak membutuhkan standar akademik yang lebih rendah, melainkan kondisi pelaksanaan yang adil, dukungan teknis yang memadai, dan kepemimpinan yang mampu mengubah kebijakan nasional menjadi proses belajar organisasi yang bermakna.(*)

Selanjutnya 1 2 3 4 5

Komentar

Loading...