Membaca Tes Kemampuan Akademik di Daerah 3T dalam Kacamata Filosofi

John Paul Sipondak

Karena itu, analisis TKA di daerah 3T perlu menghindari dua hal yang ekstrem: menolak standardisasi semata-mata karena adanya ketimpangan konteks, atau menganggap standardisasi otomatis menjamin keadilan tanpa menelaah kondisi implementasi.

Paulo Freire dan Ronald Heifetz menawarkan dua lensa yang berbeda namun dapat dipertemukan. Dimana Freire membantu membaca hubungan pendidikan dengan humanisasi, dialog, kesadaran kritis, praxis, dan relasi subjek dalam pembelajaran.

Dan Heifetz membantu membaca perubahan kebijakan sebagai kombinasi technical challenge dan adaptive challenge. Pada taraf ini bukan berarti kita menggunakan pandangan Freire untuk menyimpulkan bahwa TKA secara inheren menindas, maupun Heifetz untuk membenarkan kebijakan.

Keduanya digunakan sebagai perangkat analitis untuk menguji kondisi, risiko, dan kebutuhan kepemimpinan dalam implementasi TKA.

Secara resmi, TKA dimaksudkan untuk menyediakan informasi capaian akademik individual yang terstandar. Pada laman resmi TKA 2026, pemerintah menekankan kebutuhan keterbandingan capaian ketika hasil digunakan dalam situasi seleksi.

TKA dilaksanakan secara komputerisasi; moda daring terhubung langsung dengan server pusat, sedangkan moda semi-daring disediakan sebagai alternatif untuk kondisi jaringan terbatas.

Dalam analisis kebijakan, penting membedakan antara standardisasi konstruk dan standardisasi kondisi. Konstruk yang hendak diukur memerlukan konsistensi agar skor bermakna.

Akan tetapi, kondisi implementasi perlu memastikan bahwa hambatan yang tidak terkait dengan kemampuan akademik misalnya, kegagalan perangkat atau akses jaringan tidak mendominasi pengalaman peserta. Di sinilah konteks 3T menjadi relevan secara analisis.

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2 3 4 5

Komentar

Loading...