Membaca Tes Kemampuan Akademik di Daerah 3T dalam Kacamata Filosofi

John Paul Sipondak

Oleh karena itu ketidakseimbangan antara letak geografis, sarana prasarana dan kesiapan guru dan siswa dalam merespons kebijakan baru yang berlebel TKA ini dalam beberapa fenomena:

Perangkat komputer tidak mencukupi, jaringan tidak stabil, operator belum menguasai system, guru menganggap TKA hanya urusan Latihan soal, kecemasan tinggi karena kebijakan baru, sekolah mengejar skor dengan dengan mengorbankan tujuan yang lebih luas, keterbatasan lama dianggap kebiasaan untuk tidak belajar.

Semua fenomena itu membutuhkan respons yang adaptif dari pemangku kepentingan baik kemendikbud, pemerintah daerah dan dinas terkait maupun sekolah dalam memahami pola pemetaan atas masalah yang di hadapi pada wilayah 3T.

Dilain sisi Harus diakui bahwa Freire dan Heifetz tidak berasal dari tradisi pemikiran filosofi yang sama. Freire terutama berbicara tentang pedagogi kritis, humanisasi, dialog, dan praxis; Heifetz tentang praktik kepemimpinan dalam menghadapi tantangan adaptif. Karena itu, integrasi keduanya harus bersifat dialogis, bukan peleburan konsep.

Oleh karena itu keduanya mengusulkan Kerangka yang terdiri atas empat lapisan: (1) standar nasional dan tujuan TKA; (2) realitas kontekstual daerah 3T; (3) diagnosis Freire atas humanisasi, dialog, kesempatan belajar, dan risiko reduksi pedagogis; serta (4) diagnosis Heifetz atas technical dan adaptive challenges.

Titik temu keduanya berada pada partisipasi manusia sebagai subjek perubahan: guru dan murid tidak hanya menjadi objek kebijakan, tetapi aktor yang perlu memahami, belajar, dan terlibat dalam respons sekolah bahkan pemangku kebijakan baik itu kemendikbud maupun dinas Pendidikan propinsi maluku utara.

Implikasi Kebijakan

Pertama, kebijakan afirmatif untuk wilayah 3T perlu diarahkan bukan pada penurunan standar kemampuan yang diukur, tetapi pada pemerataan kesempatan mengikuti asesmen secara layak.

Kedua, dukungan teknis perlu disertai pengembangan kapasitas organisasi sekolah.

Ketiga, evaluasi implementasi perlu memeriksa bukan hanya keberhasilan administrasi tes, tetapi juga efek kebijakan terhadap pembelajaran.

Keempat, saluran umpan balik dari sekolah 3T perlu diperlakukan sebagai sumber diagnosis kebijakan, bukan semata laporan kepatuhan.

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2 3 4 5

Komentar

Loading...