AI dan Masa Depan Kemanusiaan

Ternyata setelah ditelaah lebih jauh, pernyataan tersebut telah diubah dengan sedemikian rupa menggunakan bantuan AI yang dikenal dengan deep fake . Tentu saja tidak semua orang mampu melihat segala yang terlontar di kanal media sosial merupakan sebuah realita.
Tepat rasanya melihat bahwa akal imitasi dan kecanggihannya belum tentu mampu berdampak baik kepada setiap orang. Dibutuhkan pikiran kritis dan cara berpikir ilmiah untuk menghalau dampak – dampak buruk dari akal imitasi.
Namun, sayang, dalam kesehariaan dan dunia pendidikan, acap kali, individu yang memiliki cara pikir kritis dan ilmiah dianggap sebagai orang yang menyebalkan dan diangap aneh.
Selain itu, hal menarik lain terpublikasi di MIT Technology Review yang berisi liputan investigasi jurnalistik dengan judul AI Colonialism. Dalam pengantarnya, AI menciptakan tatanan dunia baru serta mencatat semakin banyak intelektual yang melihat bahwa AI mengulangi pola sejarah kolonial.
Jika dahulu kolonialisme menalukkan bangsa, mengambil sumber daya dan mengeksploitasi manusia, AI melakukan pola yang sama, pihak yang menggengam teknologi kelak mengeksploitasi sumber daya dan manusia. Dalam liputan berseri tersebut menyampaikan kehidupan masyarakat yang dikendalikan oleh mekanisme akal imitasi dari berbagai wilayah di dunia.
Namun, di balik itu semua, tentu saja , sebagai manusia, kita tidak dapat mengelak kemajuan zaman. Sepanjang kehidupan, kelompok yang menolak modernisasi akan terlempar dari arus waktu. Terlena dengan modernisasi juga dapat membahayakan kemanusiaan itu sendiri.
Sering kali pula kita mendengar pameo bahwa perkembangan teknologi seperti “pisau bermata dua”, dia akan bermanfaat jika dengan bijak digunakan. Dan tentu saja, sebagai warga negara kita patut mendorong penguasa juga memikirkan dampak dari pesatnya teknologi bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Jangan sampai hal klasik selalu terulang, “tiba akal , tiba masa”. Semoga.(*)

Komentar