Konektivitas Untuk Pertumbuhan yang Berkualitas

Safruddin Jen

Ekosistem Konektivitas

Konektivitas merupakan salah satu tulang punggung dalam mendorong tercapainya pertumbuhan eknomi 8% pada tahun 2029 dan masuk dalam ASTA CITA ke tiga yaitu meningkatkan lapangan kerja yang berkualitas, mendorong kewirausahaan, mengembangkan industri kreatif, dan melanjutkan pengembangan infrastruktur.

Konektivitas yang produktif adalah membangun ekosistem transpotasi, energi, telekomonikasi, dan sistem logistik yang terintegrasi untuk ,mendukung pertumbuhan ekonomi dan pemerataan.

Konektivitas tidak hanya membangun jalan dan jembatan serta sistem digitalisasi, tetapi konektivitas harus membangun sistem ketersediaan listrik, BBM dan menciptakan rantai pasok dari hulu ke hilir. Yang pada akhirnya akan menciptakan dampak berantai, misalnya pada sektor UMKM dan sektor parawisata.

Amartya Sen, ekonom India dan pemenang Nobel Ekonmi tahun 1998 atas kontribusinya pada teori ekonomi kesejahteraan dan ukuran, yang dijuluki Bapak Pembagunan Manusia, menyatakan bahwa konektivitas adalah perluasan kebebasan, kebebasan bergerak, kebebasan akses pasar, dan kebebasan akses informasi.

Sen merupakan ahli ekonomi yang memprotes indikator kemajuan suatu negara hanya berdasarkan pendapatan per kapita, tanpa mempertimbangkan pembanguan manusia terutama kesehatan (angka harapan hidup) dan pendidikan( rata rata lama sekolah dan dan harapan lama sekolah).

Kritik Sen adalah pertumbuhan tanpa keadilan itu kosong. Kalimat bijak Sen yang terkenal adalah Kemiskinan sejati adalah perampasan kemampuann dasar untuk mencapai kehidupan yang layak.

Konektivitas adalah jantungnya pembanguan. Secara fisik dia adalah urat nadi, secara digital dia adalah saraf, secara sosial dia darah. Konektivitas harus dibangun dalam suatu ekosistem pembangunan, jika tidak, konektivitas yang dibangun tidak berfungsi optimal.

Dalam konteks pembangunan wilayah, Maluku Utara, sebagai provinsi kepulauan, selain membutuhkan konektivitas Tol Laut, adalah konektivitas jalan dan jembatan yang dapat menghubungkan pusat pusat pertumbuhan dan daerah 3T (Tertinggal, Terdepan dan Terluar).

Ekosistem konektivitasnya harus dibangun agar tercipta efek berantai untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang berkualitas. Kolaborasi produktif dari pusat sampai Tingkat lapangan menjadi prasyarat utama dalam model Pembangunan seperti ini menuju masyarakat yang produktif.

Kemajuan suatu bangsa atau daerah tergantung tingkat produktivitas masyarakatnya. Dan Maluku Utara mempunyai modal besar yaitu pertumbuhan ekonomi yang sangat tinggi. Dengan konektivitas yang inklusif akan menciptakan pertumbuhan ekonomi yang berkualitas menuju masyarakat yang maju, mandiri dan berkarakter. (*)

Selanjutnya 1 2 3

Komentar

Loading...