Ketika Kekeringan Dijawab dengan Ritual, Bukan Kebijakan

Bismillah: Minta Hujan atau Minta Ampun?

Anwar Husen

Sebab masyarakat mungkin perlu memohon hujan, tetapi pemerintah wajib mempertanggungjawabkan kebijakannya. Kebijakan yang bersinggungan dengan pemanfaatan air.

Hujan memang menurunkan air. Tetapi jika air hanya "mengalir sampai jauh", kita mungkin perlu mendenisikan ulang arti berkah.

Berkah adalah swasembada: ketika air mampu menjadi model kebijakan memicu kesuburan, melipatgandakan hasil pertanian dan mempercepat kemakmuran.

Tak usah bermimpi laiknya negara gurun bersuhu panas namun bisa mengespor buah segar ke negara beriklim dingin. Itu terlalu jauh. Mempertahankan komoditas pertanian tertentu yang menjadi kebutuhan pokok saja sudah cukup.

Musim penghujan juga tak akan banyak artinya sebagai variabel pengungkit dominan ketahanan pangan lokal, jika ketergantungan suplai pangan kita dari luar daerah masih tinggi, yang secara kebijakan bisa disiapkan.

Banyak fakta yang umum terjadi. Kekuasaan seringkali menggunakan bahasa agama ketika berhadapan dengan kegagalan mengelola persoalan yang sebenarnya dapat dipersiapkan secara lebih rasional.

Sebagaimana musim penghujan, kemarau panjang juga bukan kali pertamanya. Tetapi masih belum banyak juga yang belajar untuk menjadikannya produk kebijakan sebagai media pengungkit membangun kemaslahatan bersama. Wallahua'lam.(*)

Selanjutnya 1 2 3 4 5

Komentar

Loading...