Ketika Kekeringan Dijawab dengan Ritual, Bukan Kebijakan
Bismillah: Minta Hujan atau Minta Ampun?

Nurdin Abdullah memberi pesan visioner bagaimana air bisa dikelola menjadi kebijakan yang memilik nilai maslahat yang luar biasa.
Saatnya membongkar cara berpikir yang terlalu sederhana dan linier: Kemarau akan mendatangkan musibah. Karena itu solusi mengantisipasnya adalah dengan minta hujan.
Padahal musim kemarau tidak otomatis merupakan hukuman Tuhan, sebagaimana musim hujan tidak otomatis merupakan tanda Tuhan sedang memberikan kemakmuran. Keduanya merupakan bagian dari sunatullah.
Yang menjadi ujian justru bagaimana manusia meresponsnya.
Dengan demikian, ujian Tuhan bukan hanya ketika kekurangan air, tetapi juga ketika diberi hujan, kekayaan, sumber daya alam, dan kekuasaan.
Kemarau bisa jadi menguji kesabaran masyarakat. Tetapi hujan juga menguji kualitas kebijakan pemerintah: Apakah air yang turun dimanfaatkan untuk membangun ketahanan pangan atau kembali berlalu begitu saja tanpa meninggalkan cadangan?
Kita mudah terjebak pada mentalitas simbolik. "Ora et Labora" mestinya jangan berhenti sebagai slogan. Doa tanpa ikhtiar kebijakan hanya menjadi ritual. Dan kerja tanpa kesadaran ketuhanan mudah berubah menjadi kesombongan.
Poin yang sedikit lebih mengena mestinya minta ampun, bukan minta hujan. Meminta ampun bukan berarti menolak shalat istisqa. Yang dimaksud adalah introspeksi kolektif.
Memang menjadi kewajiban pemerintah mengajak masyarakat berdoa. Tetapi pemerintah juga harus mengajak dirinya sendiri bercermin.
Baca Halaman Selanjutnya..



Komentar