Dari Persemaian ke Pesisir: 1.000 Bibit Mangrove Disiapkan untuk Menjaga Pantai Wauwo dan Habitat Mamoa

Tobelo, malutpost.com - Upaya menjaga habitat Mamoa di Halmahera Utara dimulai dari langkah sederhana: menyiapkan bibit mangrove untuk mengembalikan fungsi ekosistem pesisir.
Melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Maluku dan Papua (UIP MPA) berkolaborasi dengan Program Studi Kehutanan, Fakultas Ilmu Alam dan Teknologi Rekayasa (FIATER), Universitas Halmahera (UNIERA), dalam pembibitan 1.000 bibit mangrove yang akan mendukung rehabilitasi kawasan Pantai Wauwo, Desa Mamuya, Kabupaten Halmahera Utara.
Bagi PLN UIP MPA, kegiatan yang dilaksanakan pada Sabtu (22/8/2026) ini bukan sekadar kegiatan menanam pohon. Lebih dari itu, rehabilitasi mangrove menjadi bagian dari upaya membangun kembali fungsi ekologis pesisir sekaligus meningkatkan kesadaran generasi muda dan masyarakat terhadap pentingnya menjaga lingkungan.
General Manager PLN UIP MPA, Raja Muda Siregar, menyampaikan bahwa keberlanjutan lingkungan membutuhkan proses panjang dan konsisten.
“Menanam mangrove hari ini mungkin belum langsung terlihat hasilnya. Tetapi beberapa tahun ke depan, ketika mangrove tumbuh dan ekosistemnya kembali terbentuk, manfaatnya akan dirasakan oleh masyarakat dan lingkungan. Karena itu, TJSL harus kita dorong menjadi program yang memiliki keberlanjutan, bukan sekadar kegiatan sesaat,” ujar Raja.
Ia menambahkan bahwa keterlibatan perguruan tinggi, masyarakat dan generasi muda menjadi kekuatan penting dalam menjaga keberlanjutan program.
“Kami ingin kegiatan ini menjadi ruang belajar bersama. Mahasiswa dapat menerapkan ilmu di lapangan, siswa mengenal lingkungan sejak dini, masyarakat mendapatkan manfaat dan pengalaman, sementara PLN dapat berkontribusi melalui program TJSL. Semuanya bergerak dalam satu tujuan, yaitu menjaga lingkungan,” katanya.

Proses pembibitan dilakukan dengan menggunakan dua jenis mangrove, yaitu Rhizophora apiculata dan Bruguiera gymnorhiza. Tahapan dimulai dari pemilihan bahan tanaman, penyemaian, penanaman pada media pembibitan, hingga pemeliharaan dan pemantauan pertumbuhan.
Dosen Prodi Kehutanan UNIERA yang juga memiliki kepakaran di bidang Silvikultur Agroforestri, Dr. Ebedly Lewerissa, S.Hut., M.Sc., mengatakan bahwa keberhasilan rehabilitasi mangrove sangat ditentukan oleh kualitas proses sejak pembibitan hingga penanaman di lapangan.
“Kami ingin kegiatan ini tidak berhenti di persemaian. Bibit yang dihasilkan harus sampai ke lapangan, ditanam, dipelihara dan dipantau. Lebih penting lagi, masyarakat harus menjadi bagian dari proses tersebut,” ungkap Ebed.
Menurut Ebed, mangrove memiliki fungsi ekologis yang sangat penting bagi kawasan pesisir. Selain membantu mengurangi abrasi, mangrove menjadi tempat hidup berbagai jenis biota, menjaga kualitas lingkungan pesisir dan memiliki kemampuan menyimpan karbon.
Fungsi tersebut menjadi semakin penting ketika dikaitkan dengan keberadaan Mamoa. Perlindungan habitat satwa tidak dapat dipisahkan dari kondisi ekosistem di sekitarnya. Karena itu, rehabilitasi mangrove menjadi salah satu pendekatan untuk memperkuat lingkungan pesisir yang mendukung kehidupan berbagai jenis satwa.
Menariknya, kegiatan pembibitan ini juga melibatkan kelompok masyarakat konservasi Mamoa serta siswa sekolah dasar. Keterlibatan berbagai kelompok tersebut menjadikan kegiatan sebagai ruang pembelajaran lintas generasi.
Mahasiswa tidak hanya memperoleh pengetahuan teoritis mengenai silvikultur dan ekosistem mangrove, tetapi juga mendapatkan pengalaman dalam melakukan pembibitan secara langsung. Sementara itu, siswa diperkenalkan pada pentingnya menjaga pesisir dan habitat satwa melalui pengalaman lapangan.

PLN UIP MPA dan UNIERA selanjutnya mendorong agar 1.000 bibit yang telah dipersiapkan dapat dilanjutkan ke tahap penanaman, pemeliharaan, monitoring dan evaluasi. Pendekatan tersebut diharapkan memastikan manfaat program dapat dirasakan dalam jangka panjang.
Raja Muda menegaskan bahwa keberhasilan program TJSL tidak hanya diukur dari jumlah bibit yang ditanam, tetapi dari keberlanjutan manfaat yang dihasilkan.
“Ukuran keberhasilan bukan hanya berapa bibit yang kita tanam, tetapi berapa banyak yang dapat tumbuh, bertahan dan memberikan manfaat. Lebih jauh lagi, bagaimana kegiatan ini dapat menumbuhkan kepedulian masyarakat untuk menjaga kawasan secara mandiri,” jelasnya.
Melalui kolaborasi tersebut, PLN UIP MPA bersama UNIERA membuka langkah menuju rehabilitasi Pantai Wauwo yang lebih berkelanjutan. Dari persemaian, bibit mangrove dipersiapkan untuk kembali ke pesisir; dari keterlibatan mahasiswa dan siswa, pengetahuan lingkungan diwariskan; dan dari kolaborasi masyarakat, perguruan tinggi dan PLN, upaya menjaga habitat Mamoa terus diperkuat.
Dari satu bibit, tumbuh harapan. Dari mangrove yang terjaga, kehidupan pesisir dan habitat Mamoa ikut terlindungi. (ikh)



Komentar