Bupati Bukan Bendahara Boom Nikel

Ukuran Terakhir Seorang Bupati Daerah Tambang
Barangkali keberhasilan seorang Bupati di daerah non-tambang dapat dinilai dari berapa jalan dibangun, berapa sekolah diperbaiki, berapa rumah disediakan dan seberapa baik pelayanan publik berjalan.
Tetapi ukuran kepala daerah di pusat ekstraksi sumber daya harus lebih berat. Ia harus dinilai dari apa yang berhasil diselamatkan dari periode boom untuk masa ketika boom itu berakhir.
Apakah anak-anak daerah menjadi lebih terampil?
Apakah perusahaan lokal tumbuh?
Apakah nelayan dan petani menguasai pasar baru?
Apakah ekonomi menjadi lebih beragam?
Apakah lingkungan tetap produktif?
Apakah ketergantungan pada tambang semakin kecil?
Apakah pemerintah membangun sumber pendapatan baru?
Apakah generasi setelah kita menerima aset, bukan tagihan?
Itulah ujian kepemimpinan daerah tambang. Karena Bupati tidak dipilih hanya untuk membelanjakan kemakmuran hari ini. Ia dipilih untuk memastikan masyarakat masih mempunyai masa depan ketika sumber kemakmuran hari ini berubah.
Maka ketika orasi ilmiah Bupati Ikram Malan Sangadji berbicara tentang resilience, pertanyaan publik seharusnya tidak berhenti pada seberapa tangguh APBD Halmahera Tengah?
Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah seberapa tangguh Halmahera Tengah jika suatu hari nikel tidak lagi menjadi penyangga utama ekonominya?
Jika jawaban atas pertanyaan itu belum terlihat jelas, pekerjaan terpenting seorang Bupati sebenarnya belum selesai. Sebab menjadi Bupati di tengah boom nikel bukanlah menjadi bendahara dari kekayaan yang sedang datang. Ia harus menjadi arsitek dari kehidupan yang tetap berlangsung setelah kekayaan itu pergi. *


Komentar