Catatan
Demokrasi dalam Ancaman Otokrasi

Keempat, normalisasi politik loyalitas. Dijelaskan Applebaum, jaringan otokrasi mempertahankan diri melalui hubungan patronase, yakni penghargaan diberikan berdasarkan loyalitas, bukan kompetensi (Applebaum, 2024 : 113–127).
Bila praktik seperti ini berkembang, birokrasi kehilangan profesionalisme dan pelayanan publik menjadi tidak optimal. Masyarakat akhirnya memandang negara bukan sebagai pelayan publik, melainkan sebagai alat kelompok yang sedang berkuasa.
Beberapa tahun terakhir ini, Indonesia menghadapi tantangan berupa menurunnya tingkat kepercayaan publik terhadap institusi politik. Berbagai survei memperlihatkan, sebagian masyarakat merasa aspirasi mereka kurang didengar dalam proses pengambilan kebijakan.
Keadaan seperti ini dapat memperlemah legitimasi demokrasi apabila tidak direspons melalui keterbukaan pemerintah dan penguatan partisipasi warga.
Namun demikian, membaca Indonesia melalui Autocracy, Inc. tidak berarti menyimpulkan bahwa Indonesia telah menjadi negara otokratis. Applebaum sendiri memperlihatkan, demokrasi tidak runtuh dalam satu malam.
Kemunduran demokrasi biasanya berlangsung perlahan melalui akumulasi kebijakan, pelemahan institusi, pembatasan ruang kritik, serta konsolidasi kekuasaan elite (Applebaum, 2024 : 145–162).
Karena itu, kerangka Applebaum lebih tepat dipahami sebagai alat untuk mendeteksi gejala-gejala yang perlu diwaspadai.
Ditekankan Applebaum, kekuatan utama demokrasi berada pada masyarakat sipil yang aktif, media independen, lembaga hukum yang profesional, dan warga negara yang kritis (Applebaum, 2024 : 179–196).
Baca Halaman Selanjutnya..



Komentar