MBG Sudah Menjadi Simbol Politik

Rully Baba

Di sini Friedrich Hayek menjadi relevan, meskipun sering disederhanakan: pengetahuan yang diperlukan untuk mengatur masyarakat tidak pernah terkonsentrasi di satu titik. Ia tersebar, berubah, dan sering muncul setelah keputusan dibuat, bukan sebelumnya.

Robert Nozick, dengan cara lain, mengingatkan hal serupa: ketika satu bentuk dianggap satu-satunya jalan menuju keadilan, yang lahir bukan lagi keadilan, tapi pemaksaan bentuk.

Memang politik praktis punya kecenderungan lain. Ia membutuhkan kepastian yang bisa ditunjukkan. Bisa dipresentasikan. Bisa dipertahankan sebagai narasi. Dan di situlah MBG atau kebijakan apa pun dalam posisi serupa, pelan-pelan tidak lagi dibaca sebagai alat, melainkan sebagai tanda.

Bukan lagi: apakah ini bekerja? Tapi: apakah ini boleh diubah?

Pertanyaan itu terdengar teknis, tapi implikasinya bukan teknis sama sekali. Ia menggeser kebijakan dari ruang evaluasi ke ruang legitimasi. Dari yang bisa diuji, menjadi yang harus dijaga.

Ada momen ketika kebijakan berhenti menjadi sekadar kebijakan. Biasanya tidak dramatis. Tidak ada pengumuman. Tidak ada titik balik yang jelas. Hanya perubahan kecil dalam cara orang bereaksi terhadap kritik.

Kritik terhadap desain mulai terdengar seperti penolakan terhadap niat.
Pertanyaan soal efisiensi dibaca sebagai ketidakpedulian. Usulan perubahan diperlakukan sebagai gangguan, bukan koreksi.

Di titik itu, sesuatu berubah struktur dalam diam. Diskusi tidak lagi berkisar pada apa yang bekerja. Melainkan siapa yang berhak terlihat benar.

Evaluasi tetap ada, tapi fungsinya bergeser: bukan untuk mengoreksi arah, melainkan untuk menguatkan keputusan yang sudah terlanjur diambil.

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2 3

Komentar

Loading...