Malut United: Pelajaran Berharga untuk Persiter

M.Rusdy Namsa

2. Kepemilikan yang tidak stabil dan manajemen finansial yang buruk.
Klub yang bergantung sepenuhnya pada suntikan dana satu figur pemilik atau korporasi tertentu tanpa membangun kemandirian finansial sangat rentan bubar.

Jika pemilik tersebut kehilangan minat, bangkrut, atau tersandung kasus hukum, klub bisa langsung mengalami krisis finansial hebat hingga likuidasi (Lago et al., 2006).

Tanpa tata kelola keuangan yang sehat financial sustainability, klub tidak akan memiliki struktur jangka panjang yang bisa menjamin kelangsungan hidup mereka saat badai ekonomi datang.

3. Fenomena Franchise atau Relokasi Klub. Ini yang dialami Malut United dan menjadi pelajaran berharga untuk Persiter. Di beberapa negara (termasuk dinamika sepak bola modern), sering terjadi akuisisi lisensi klub yang diikuti dengan perpindahan markas homebase ke kota lain demi keuntungan komersial instan atau dukungan politik lokal.

Klub seperti ini tidak memiliki waktu untuk menumbuhkan aspek sosio-historis dengan masyarakat setempat.(Giulianotti, 2002).

Fans tidak bisa diciptakan secara instan melalui selembar kertas legalitas; mereka membutuhkan memori kolektif yang tumbuh lintas generasi di wilayah geografis yang sama, ini yang telah dimiliki Persiter dan perlu dijaga bersama.

4. Kegagalan Membangun Komunitas dan Tata Kelola Inklusif.
Banyak klub baru atau klub hasil merger mengabaikan pentingnya pelibatan fans dalam pengambilan keputusan. Ketika fans diperlakukan murni sebagai "konsumen" (yang hanya bertugas membeli tiket dan jersei) dan bukan sebagai "stakeholder" atau bagian dari keluarga besar klub, loyalitas mereka menjadi sangat rapuh (Cleland, 2015).

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2 3 4

Komentar

Loading...