Malut United: Pelajaran Berharga untuk Persiter

Oleh sebab itu lahirnya Persiter kembali jika benar-benar terwujud maka pemilik klub tidak boleh egois dan arogan merasa dialah sendiri yang membangkitkan Persiter.
Merasa dialah sendiri pemilik klubnya tapi dengan kebesaran hati harus mengatakan bahwa Persiter adalah milik kita semua, ini adalah fondasi utama untuk kembali membangun Persiter, harus benar-benar diperhatikan fundamental yang sejak lama dipegang Persiter.
Membangun klub sepak bola yang memiliki keberlanjutan jangka panjang dan basis fans yang loyal (berakar kuat) bukan sekadar masalah menang atau kalah di lapangan.
Persiter sejak awal telah mempunyai modal ini sehingga harus terus dipupuk. Secara akademis dan praktis, ada faktor-faktor struktural, sosiologis, dan manajemen yang menentukan hal ini.
Berikut adalah 5 faktor utama yang harus diperhatikan Persiter agar tidak bernasib sama dengan Malut United dan bisa sustainable :
1. Persiter tidak boleh melakukan komersialisasi yang berlebih dan kehilangan Identitas lokal.
Ketika sebuah klub sepak bola mengorbankan nilai-nilai tradisional, warna klub, logo, atau sejarah demi mengejar keuntungan pasar, naikan harga tiket nonton gila-gilaan mereka akan mengalami keretakan hubungan dengan basis fans lokal.
Fans merasa tidak lagi memiliki keterikatan emosional dan menganggap klub hanya sebagai entitas bisnis dingin yang mengeksploitasi mereka. (Kerr, 2017). Pengosongan nilai-nilai lokal ini membuat identitas klub menjadi superfisial, sehingga ketika performa klub menurun, fans dengan mudah meninggalkan klub tersebut.
Baca Halaman Selanjutnya..



Komentar