El Nino dan Kolaborasi Produktif

Safruddin Jen

Hutan adalah menyerap emisi GRK terbaik, namun jika terjadi kebakaran hutan, hutan menjadi salah satu sumber emisi GRK. Emis GRK dari kebakan hutan adalah paling banyak CO2, selain itu ada CO, CH4 dan N2O. Fungsi hutan sebagai penyerap emisi GRK tidak bisa dilakukan saat terjadi kebakaran hutan.

Tipe ekosistem hutan yang paling rawan terjadi kebakaran adalah ekosistem lahan gambut dan hutan savana. Sehingga perlu mendapatkan perhatian ekstra dalam aksi pengendalian kebakaran hutan.

Penyebaran ekosistem gambut terdapat di Pulau Sumatera dan Pulau Kalimantan. Sementara Ekosistem savana terdapat di Provinsi Papua Selatan yang sebagian besar berada dalam Kawaan Hutan Konservasi dan Perlindungan Areal Konservasi Tinggi (di luar kawasan hutan konservasi).

Sesuai Rencana Kerja FOLU Net Sink 2030 Provinsi Papua Selatan, luas Perlindungan Areal Konservasi Tinggi adalah 1.994.727,1 hektar yang sebagian besar (67%) berada dalam kawasan hutan lindung yang merupakan areal terluas (32,93%) dalam rencana aksi mitigasi GRK.

Selain itu, terdapat ekosistem mangrove seluas 640.727,60 hektar yang juga masuk dalam rencana aksi mitigasi emisi GRK. Ekosistem mangrove Provinsi Papua Selatan adalah yang terluas di Indonesia. Kemampuan ekosistem mangrove menyerap dan menyimpan karbon 3 – 5 kali lipat dari hutan tropis dataran tinggi.

Dampak El Nino pada sektor pertanian, misalnya, timbulnya hama dan penyakit pada tanaman, kesuburan tanah pertanian menurun dan hilangnya sumber air pertanian.

Sementara dampak El Nino pada Kesehatan manusia, misalnya, ISPA, asma, Diare, kolera. malaria dan DBD . Dampak selanjutnya adalah pada stunting, gizi buruk.

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2 3

Komentar

Loading...