Kemakmuran dalam Islam

Ayat ini memberi pendefenisian bahwa wujud manusia yang memiliki nilai ketaqwaan itu adalah orang yang selalu memberi, baik diwaktu susah maupun diwaktu senang, orang yang selalu terbuka tangannya dalam kedermawanan.
Ciri orang-orang yang bertaqwa sebagaimana dijelaskan oleh Nabi Muhammad dalam sabdanya, “Khairunnas anfahum Linnaas” sebaik-baik manusia adalah yang dapat memberi manfaat pada orang lain, kita diberi ukuran oleh Nabi sebagai manusia terbaik jika keberadaan kita dapat memberi kemanfaatan untuk manusia lainnya, jikapun kita tidak mampu berbuat baik untuk orang lain, minimal keberadaan kita, tidak menyusahkan.
Di dalam teks ayat lain Allah mengkalamkan “Walyahk syalladziina lautarakuu minkhalfihim dzurriyatan dhi’aafan khaafuu ‘alaihim Falyattaqullaaha Walyaquuluu Qaulaan sadiidaa” (hendaklah merasa takut wahai para orang tua jika kelak meninggalkan anak-anak keturunan dalam keadaan lemah (yang) mereka hawatir terhadapnya, maka bertaqwalah kepada Allah dan berbicaralah dengan tutur kata yang benar).
Pada surat annisa ayat 9 ini Allah memberi warning peringatan keras kepada orang tua akan kemakmuran, kesejahteraan anak-anak keturunannya jika kelak setelah wafatnya orang tua, membiarkan anak anak berada pada posisi yang lemah secara ekonomis (Dhaif), yang miskin, peringatan ini sejalan dengan apa yang disabdakan Nabi Muhammad qadalfakru aiyakuna kufra, bahwa kemiskinan akan selalu mendekatkan diri pada kekufuran.
Dalam tafsiran hermeneutik, ayat ini tidak sekedar peringatan kepada orang tua akan tetapi, Allah memperingatkan kepada para pemimpin, jika sekiranya pasca kepemimpinan disuatu negeri dikala menjadi presiden, gubernur, bupati dan menjadi wali kota.
Setelah dia berkuasa masyarakat yang dia pimpinnya berada dalam kesengsaraan, masyarakat tidak berubah kemakmurannya, dan karena kelalaian mengelola kekuasaanya untuk membangun kemakmuran bersama sehingga menjerumuskan ummat dalam kekufuran akibat kesengsaraan dan kemiskinannya maka semua itu akan di hisab oleh Allah yang Maha Adil sebagai bentuk pertanggungjawaban.
Rasul dalam hembusan nafas terakhirnya sebagai pemimpin sebuah negara Madina, berucap ummati, ummati, ummati, (ummatku, ummatku, ummatku), jadi ummmatku yang dikhawatirkan rasul itu adalah bentuk ikhtiar kepemimpinannya sebagai kepala Negara.
Baca Halaman Selanjutnya..



Komentar