Kepala Daerah Ence (Bagian 1)

Monopoli Perdagangan Desa, Kapitalisme Patronase dan Lahirnya Konglomerat Lokal Baru

Dr. Mukhtar Adam

Oleh: Dr. Mukhtar Adam
(Akademisi Universitas Khairun)

Istilah Ence bukan sekadar identitas etnis atau panggilan kultural, melainkan sebuah simbol ekonomi yang merujuk pada pelaku usaha perdagangan yang berhasil menguasai ekosistem bisnis desa secara menyeluruh.

Dalam konteks tertentu, Ence dipandang sebagai motor penggerak ekonomi kampung/desa karena menghadirkan barang, modal, dan akses pasar.

Baca di: Koran digital Malut Post edisi Senin, 18 Mei 2026

Namun, di sisi lain, Ence juga dianggap sebagai representasi oligarki lokal yang membangun monopoli perdagangan hingga menciptakan ketergantungan struktural masyarakat terhadap satu kelompok ekonomi tertentu.

Fenomena Ence sesungguhnya menarik dibaca melalui perspektif ekonomi politik lokal. Kehadiran mereka hampir selalu dimulai dari sektor perdagangan dasar: membuka toko sembako, menjadi distributor bahan kebutuhan pokok, membeli hasil bumi masyarakat, lalu perlahan menguasai sistem logistik dan distribusi barang.

Dalam waktu relatif singkat, jaringan usaha berkembang dari kota-kota besar seperti Surabaya menuju desa-desa terpencil di kawasan timur Indonesia.

Hal ini terjadi karena Ence membentuk jejaring bisnis dari pusat industri, distribusi, hingga pasar dalam satu ekosistem yang dirancang untuk menguasai pasar melalui jaringan antarsesama Ence.

Mereka tidak bekerja secara individual, melainkan membangun jaringan kolektif berbasis solidaritas sosial dan etnis yang kuat.

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2 3 4 5 6

Komentar

Loading...