Kepala Daerah Ence (Bagian 1)
Monopoli Perdagangan Desa, Kapitalisme Patronase dan Lahirnya Konglomerat Lokal Baru

Ketika negara gagal membangun koperasi yang sehat, gagal menghadirkan akses perbankan murah, gagal menjaga stabilitas harga hasil bumi, dan gagal membangun logistik antarwilayah yang efisien, maka ruang tersebut akan diisi oleh aktor-aktor nonnegara yang bekerja berdasarkan logika keuntungan.
Karena itu, solusi terhadap dominasi ekonomi Ence bukan sekadar membatasi aktivitas perdagangan mereka, melainkan membangun alternatif ekonomi rakyat yang lebih kuat.
Negara perlu menghadirkan koperasi modern berbasis digital, memperkuat BUMDes dan koperasi rakyat, membuka akses pembiayaan murah bagi petani dan nelayan, serta membangun sistem logistik desa yang kompetitif.
Tanpa itu, masyarakat akan terus bergantung pada jaringan ekonomi informal yang pada akhirnya menciptakan ketimpangan baru di pedesaan.
Pada akhirnya, Ence adalah cermin dari wajah kapitalisme lokal Indonesia: adaptif, berbasis jaringan sosial, mengakar di desa, tetapi sekaligus berpotensi melahirkan monopoli ekonomi yang mengekang masyarakat.
Mereka tumbuh dari lorong-lorong perdagangan kecil, namun perlahan berubah menjadi penguasa ekosistem ekonomi desa. Dari toko sederhana menuju konglomerasi lokal.
Dari pedagang menjadi pemegang kendali tanah, hasil bumi, bahkan arah politik desa. Ketika ekonomi telah terkonsolidasi secara sempurna, lahirlah sebuah kekuasaan baru yang tidak selalu terlihat dalam struktur formal negara, tetapi sangat nyata dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. (*)


Komentar