Alarm 2 April: Refleksi Hari Kesiapsiagaan Bencana untuk Maluku Utara

Basri Kamaruddin

Kita sering kali masih berada pada tahap reaktif, sibuk merangkul duka dan menghitung kerugian saat bencana tiba, ketimbang menyiapkan 'payung' kebijakan yang serius sebelum hujan badai menyapa.

Ini adalah otokritik bagi kita semua, termasuk saya, tentang sejauh mana kita telah memberikan ruang bagi isu kebencanaan agar tidak hanya menjadi catatan teknis di kantor-kantor dinas, melainkan menjadi bagian dari budaya dan rutinitas harian kita.

Memulai dari Lingkungan Terdekat

Setiap tahun, pada tanggal 26 April Indonesia memperingati Hari Kesiapsiagaan Bencana. Momentum ini bisa kita jadikan titik awal untuk memulai langkah-langkah kecil di Provinsi tercinta ini.

Mitigasi tidak harus selalu dimulai dari proyek besar pemerintah, melainkan dari meja makan di rumah kita sendiri. Membangun literasi kebencanaan berbasis komunitas berarti menjadikan pengetahuan tentang keselamatan sebagai obrolan harian.

Literasi kebencanaan tidak hanya muncul ketika terjadi bencana, namun jauh sebelum bencana itu terjadi. Mengetahui siapa melakukan apa sebelum, saat, dan setelah terjadi bencana adalah keterampilan hidup sederhana yang bisa menyelamatkan banyak hal.

Di sisi lain, kita tentu berharap adanya penguatan infrastruktur pendukung yang lebih merata di Maluku Utara. Keberadaan sistem peringatan dini gempabumi dan tsunami, seperti sirine atau perangkat deseminasi informasi, bukan sekadar pelengkap administratif, melainkan investasi nyawa yang fungsinya harus kita pastikan tetap terjaga.

Namun, infrastruktur fisik secanggih apa pun akan lumpuh jika tidak dibarengi dengan mitigasi non-struktural. Idealnya, kebijakan tata ruang dan wilayah yang bijak harus berjalan beriringan dengan edukasi yang menyentuh akar rumput.

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2 3 4 5

Komentar

Loading...