Alarm 2 April: Refleksi Hari Kesiapsiagaan Bencana untuk Maluku Utara

Basri Kamaruddin

Selama periode tersebut, tercatat tiga kali gempabumi magnitudo di atas 7 dengan pusat di Laut Maluku yang diikuti peringatan dini tsunami menghantam Maluku Utara.

Belum lagi jika kita menengok catatan – catatan keilmuan masa lampau dari para ahli seperti catatan dari Wichman, Heck, Sapper, dan Sieberg.

Catatan - catatan tersebut barangkali bukan sekadar fenomena alam yang menggetarkan fondasi bangunan di Provinsi ini. Bagi kita yang merasakannya, ia adalah sebuah "alarm pengingat" yang lembut namun mendalam tentang realitas geografis yang kita diami.

Dampak yang tersisa mengajak kita semua untuk kembali menengok sejauh mana kesiapan mentalitas kolektif kita dalam menghadapi rahasia yang tersimpan di perut bumi.

Sejarah panjang gempabumi dan tsunami di sekitar Laut Maluku seharusnya sudah menjadi bagian dari ingatan kolektif yang mendasari langkah kita membangun daerah.

Namun, sering kali kita manusia memiliki keterbatasan dalam merawat ingatan. Alih-alih respons berbasis kesiapsiagaan, kita kerap kali justru disibukkan oleh bencana sekunder berupa tsunami informasi palsu atau hoaks.

Di sini kita belajar bahwa ketenangan dalam menyaring informasi sering kali sama pentingnya dengan kekuatan fondasi rumah kita.

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2 3 4 5

Komentar

Loading...