Alarm 2 April: Refleksi Hari Kesiapsiagaan Bencana untuk Maluku Utara

Menyimak "Supermarket Bencana"
Istilah Maluku Utara sebagai “supermarket bencana” mungkin terdengar getir, namun ia adalah undangan bagi kita untuk lebih mawas diri.
Selain catatan – catatan panjang gempabumi dan tsunami tadi, ancaman vulkanik juga berada didekat kita. Ada Dukono dan Ibu yang masih setia mengeluarkan isi perutnya, Gamalama dengan status waspada level 2, dan Kie Besi yang pernah erupsi dahsyat circa 1980.
Wilayah yang 76% nya adalah laut ini juga menjadi tantangan tersendiri ketika cuaca ekstrem menyapa. Peristiwa kapal kandas bahkan tenggelam sudah sering kita dengar.
Dalam lima tahun terakhir bahkan tercatat ada 3 peristiwa banjir yang menguji ketabahan kita: banjir lelilef Halmahera Tengah, banjir bandang Rua Kota Ternate, dan banjir Ibu Halmahera Barat.
Selain peristiwa alam tersebut, dinamika lingkungan di kawasan industri seperti Lelilef, Kawasi, dan Maba juga patut kita perhatikan.
Ada sebuah paradoks yang patut kita renungkan bersama. Di tengah semangat kita memacu roda ekonomi dan mengelola kekayaan sumber daya alam yang melimpah, aspek keselamatan warga dan investasi pada mitigasi preventif terkadang masih menempati ruang tunggu yang panjang.
Kita melihat bagaimana hilirisasi industri dan pembangunan infrastruktur begitu masif dilakukan, namun di saat yang sama, penguatan kapasitas masyarakat untuk menghadapi risiko yang menyertainya seolah berjalan di tempat.
Baca Halaman Selanjutnya..


Komentar