Musda Partai Golkar; Riuh Kontestasi, Sunyi Transformasi

Mohtar Umasugi

Dari perspektif manajemen organisasi, Peter Drucker dalam Management Tasks, Responsibilities, Practices (1973) mengingatkan, “Culture eats strategy for breakfast.”

Budaya organisasi yang masih bertumpu pada patronase dan loyalitas personal menjadi penghambat utama bagi lahirnya perubahan yang substantif.

Dengan kata lain, siapapun yang terpilih, tanpa perubahan budaya organisasi, arah partai akan tetap berjalan dalam pola lama.

Jika menengok nilai historis Partai Golkar, Akbar Tanjung menekankan bahwa Golkar adalah partai karya yang bertumpu pada profesionalisme dan pengabdian.

Sementara Aburizal Bakrie dalam Golkar di Persimpangan Jalan (2016) mengingatkan pentingnya soliditas kader dan sistem organisasi yang kuat.

Bahkan Jusuf Kalla dalam JK: The Untold Stories (2015) menegaskan bahwa partai politik harus hadir memberikan solusi bagi masyarakat, bukan terjebak dalam konflik internal. Namun dalam realitas Musda ini, pertarungan lebih banyak diwarnai oleh kekuatan jaringan dan pengaruh figur.

Alian Mus sebagai petahana memiliki keunggulan struktural dan pengalaman, tetapi dituntut untuk membuktikan bahwa keberlanjutan kepemimpinannya mampu menghadirkan inovasi.

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2 3

Komentar

Loading...