Puasa Ramadan: Momentum Transformasi Diri

H. Safri H. Abd Muin

Oleh : H. Safri H. Abd Muin
(Kepala Bagian Tata Usaha pada Kejati Maluku Utara)

Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al Baqarah : 183)

Ramadan bukan sekadar peristiwa tahunan yang hadir sebagai rutinitas ibadah. Ia adalah madrasah ruhaniyah, ruang kontemplasi, sekaligus momentum transformasi diri yang sangat mendalam.

Baca di: Koran digital Malut Post edisi Selasa, 3 Maret 2026

Dalam perspektif Islam, puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi sebuah proses pembentukan karakter, penjernihan jiwa, dan rekonstruksi orientasi hidup.

Sebagaimana ditegaskan Allah dalam Al-Qur’an, tujuan puasa adalah la‘allakum tattaqun agar kamu menjadi pribadi yang bertakwa.

Takwa di sini bukan sekadar simbol kesalehan individual, melainkan kualitas integritas yang membentuk perilaku sosial dan moral seseorang. Ramadan adalah bulan revolusi batin. Ia mengajarkan manusia untuk berlatih mengendalikan diri.

Di tengah dunia modern yang serba instan dan permisif, puasa menjadi latihan disiplin yang luar biasa. Ketika seseorang mampu menahan diri dari sesuatu yang halal pada waktunya makan, minum, dan hubungan suami istri.

Maka secara moral ia sedang dididik untuk lebih mampu menahan diri dari yang haram di luar Ramadhan.

Inilah fondasi transformasi diri: pengendalian hawa nafsu dan penataan ulang orientasi hidup. Transformasi diri dalam Ramadan setidaknya mencakup tiga dimensi utama: spiritual, moral, dan sosial.

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2 3 4

Komentar

Loading...