Tes Kemampuan Akademik dan Peta Mutu Pendidikan Nasional

Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP), Toni Toharudin, menegaskan bahwa TKA dirancang sebagai alat diagnosis nasional, bukan alat stigmatisasi.
Hasil TKA disajikan dalam empat kategori capaian kurang, memadai, baik, dan istimewa yang dilengkapi dengan deskripsi kemampuan untuk membantu murid dan sekolah merancang tindak lanjut pembelajaran secara lebih terarah (Kemendikdasmen, 2025).
Dari sisi metodologi, TKA menggunakan pendekatan Item Response Theory (IRT) dengan model dua parameter logistik. Pendekatan ini tidak hanya mempertimbangkan jumlah jawaban benar, tetapi juga tingkat kesulitan dan daya pembeda soal.
Dengan demikian, penilaian menjadi lebih adil dan reliabel dibandingkan pendekatan konvensional. Penetapan kategori capaian pun dilakukan secara transparan dengan melibatkan guru dari berbagai provinsi, sehingga hasil TKA memiliki legitimasi akademik dan profesional yang kuat.
Dampak positif TKA dapat dilihat baik dari aspek proses maupun hasil. Dari aspek proses, TKA mendorong penguatan tata kelola asesmen yang transparan, akuntabel, dan berbasis teknologi.
Mekanisme distribusi hasil secara berjenjang kepada pemerintah daerah, satuan pendidikan, dan murid menjamin keakuratan data serta perlindungan hak peserta.
Sertifikat Hasil TKA (SHTKA) dilengkapi dengan kode pengaman dan tanda tangan elektronik, mencerminkan penguatan integritas sistem asesmen nasional (Kemendikdasmen, 2025).
Baca Halaman Selanjutnya..



Komentar