Jalan Terjal Swasembada Pangan

Sebab banjirnya pasokan pangan dari luar daerah tidak sekedar berdampak pada merosotnya harga produksi pangan lokal dan kerawanan persaingan harga yang tidak kompetitif dari maraknya praktek kartel membuat kontraksi harga menjadi tidak stabil.
Namun juga melemahkan ketahanan pangan, sekaligus berdampak langsung pada menurunnya pendapatan dan ketidakberdayaan petani kita.
Berdasarkan data BPS Maluku Utara luas panen padi pada tahun 2023 sebesar 7. 782 hektar turun sebanyak 2.520 hektar atau 24,26 persen dibanding tahun 2022 dengan luas panen sebesar 10.302 hektar demikian halnya dengan produksi pada pada tahun 2023 diperkirakan 28,051 ton gabah kering giling mengalami tren penurunan sebanyak 15.332 ton atau 35,34 persen dibandingkan tahun 2022 sebesar 43.383 ton.
Penyebab utama dari penurunan ini adalah perubahan struktur ekonomi terutama tenaga kerja milinial bermigrasi ke sektor pertambangan dan beralih profesi menjadi tenaga kerja industri pengolahan dengan menyisakan petani dewasa dan tua dengan tingkat produktifitas yang cenderung lebih rendah sehingga jalan semakin terjal menuju swasembada pangan.
Padahal kita ketahui bersama potensi lahan pertanian Maluku Utara masi terbuka luas, bahkan terdapat banyak lahan tidur yang belum digarap untuk memperluas kawasan pertanian tanaman pangan dalam rangka memperkuat ketahanan pangan dan mendorong akselerasi peningkatan produksi menuju swasembada pangan.
Data BPS Propinsi Maluku Utara menunjukan luas panen pada tahun 2024 hanya 11.732,75 hektar dengan daya produksi hanya 38.113,47 ton sangat riskan untuk upaya meningkatkan daya produksi dan perluasan maupun pengembangan kawasan pertanian tanaman pangan yang diharapkan mampu mendukung akselerasi peningkatan produksi guna mendukung swasembada pangan masi jauh dari harapan, meskipun tetap optimis.
Baca Halaman Selanjutnya..
Komentar