Duet Ubaid-Anjas dan Peran Strategis Sekda Ricky Bangun Halmahera Timur

Oleh: Abd. Rahim Odeyani
(Sekretaris DPW NasDem Maluku Utara)
Sejarah tidak pernah lahir dari ruang hampa, melainkan ditempa oleh keberanian, dialektika, dan cucuran air mata dari para tokoh, pelajar, dan mahasiswa yang pernah berdiri di garis perjuangan tahun 2000-an. Bagi mereka, tanggal 23 April 2000 bukan sekadar tanggal di kalender, melainkan sebuah "titik pijak" mendalam ketika simpul-simpul kesadaran kaum intelektual muda yang tergabung dalam IKPMI - Fagogoru melebur menjadi satu kekuatan gerakan moral yang tak terbendung.
Hari ini, setelah dua puluh enam tahun berlalu, saya mengajak kita semua untuk bersama-sama memutar kembali memori kolektif—bukan sekadar untuk bernostalgia, melainkan untuk merefleksikan kembali komitmen, idealisme, dan tetesan keringat para pendahulu yang menolak tunduk pada keterbelakangan dan ketertinggalan geopolitik masa lalu.
Melalui sebuah refleksi yang mendalam, cita-cita luhur dan fondasi perjuangan yang telah diletakkan oleh para pendahulu secara perlahan mulai terlihat.
Semangat Fagogoru yang dulu membakar determinasi kaum muda kini bertransformasi menjadi energi pembangunan daerah di bawah nakhoda kepemimpinan Ubaid - Anjas.
Kesinambungan historis ini membuktikan bahwa perjuangan moral masa lalu tidak pernah sia-sia, melainkan terus hidup dan berkembang dalam arah kebijakan pembangunan demi kesejahteraan segenap masyarakat Halmahera Timur.
Titik Balik Perjuangan Halmahera Timur
Menjelang bergulirnya era reformasi 1998, jazirah Halmahera Timur masih berada dalam kondisi yang memprihatinkan. Wilayah ini terkungkung oleh keterbatasan aksesibilitas, rentang kendali pemerintahan yang teramat jauh, serta ketimpangan pembangunan yang mencolok. Keterpurukan dan rasa dikesampingkan yang dialami masyarakat setempat selama bertahun-tahun inilah yang akhirnya memicu urgensi mendalam bagi para tokoh masyarakat untuk bergerak.
Mereka sepakat memperjuangkan pemekaran wilayah demi memangkas jarak birokrasi dan menjemput keadilan pembangunan yang telah lama mereka impikan.
Merespons realitas empiris tersebut, Ikatan Keluarga Pelajar Mahasiswa Indonesia Fagogoru (IKPMI - Fagogoru) sebagai wadah energi muda terdidik mengambil langkah radikal namun konstitusional.
Sebuah sejarah emas berhasil ditorehkan pada 23 April 2000 melalui pelaksanaan Musyawarah Besar (Mubes) Rakyat Fagogoru yang dipusatkan di Gedung SKB Tidore. Tempat tersebut seketika menjelma menjadi "panggung sidang rakyat" yang sakral, mempertemukan perwakilan politisi, birokrat, tokoh adat, tokoh agama, akademisi, serta pelajar dan mahasiswa dalam satu barisan perjuangan yang solid. Konsolidasi besar-besaran ini akhirnya melahirkan resolusi tegas yang tidak bisa ditawar lagi, yaitu memperjuangkan Halmahera Timur agar disahkan menjadi Daerah Otonom Baru (DOB).
Pasca-Mubes, gerakan ini berlanjut menjadi perjuangan panjang dan melelahkan yang menguras energi serta melibatkan serangkaian lobi politik yang intens. Namun, berkat keteguhan tekad dari seluruh elemen masyarakat, gerakan tersebut akhirnya membuahkan hasil manis. Halmahera Timur secara resmi mendapatkan legitimasi sebagai kabupaten mandiri seiring dengan disahkannya Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2003, yang hingga kini menjadi tonggak awal berdirinya Kabupaten Halmahera Timur.
Baca halaman selanjutnya...


Komentar