Refleksi Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober
Kota Rempah: Akselerasi Pemuda Sebagai Kontribusi

Pemuda harus gerakkan ekonomi kota dengan menaikkan harga. Dengan kreativitas, pemuda harus ubah harga pala dari Rp.30.000 per kilo menjadi minyak pala, sabun pala, atau parfum yang harganya jauh di atas rata-rata.
Dari sisi pariwisata, kita punya banyak peninggalan sejarah. Seperti Benteng Oranje, Benten Kalamata, dan Kedaton. Tapi semua itu sepi dari narasi pemuda. Kontribusi pemuda adalah menjadi pencerita sejarah (story teller).
Keaktifotan pemuda di medsos juga dituntut mempromosikan sejarah rempah. Anak muda harus jadi tour guide milenial.
Selain itu, sebagai kota kepulauan yang rentan secara ekologi, butuh kepedulian tinggi dari anak muda. Isu lingkungan, sampah dan kesehatan menjadi bagian dari ancaman kota. Pemuda dituntut untuk tidak diam.
Selain ngopi dan diskusi di kafe, kontribusi pemuda juga harus terlihat di barangka, di bank sampah, dan di posyandu.
Pendahulu kita sudah menanam cengkeh dan pala sebagai rempah yang tidak pernah habis. Tugas kita hari ini tidak sekadar sebagai pewaris hasil, tapi penjaga sekaligus pengangkat nilai kota ini di mata dunia.
Berhenti bernostalgia dengan sejarah, tapi mari kita ciptakan karya baru di kota yang sarat rempah, yang pemudanya selalu bersinergi untuk terus berakselerasi demi pembangun kota Ternate. (*)


Komentar