Refleksi Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober

Kota Rempah: Akselerasi Pemuda Sebagai Kontribusi

Haiyun Umamit

Data BPS 2024 mencatat, lebih dari 35 persen penduduk Kota Ternate adalah pemuda usia 16-40 tahun. Ini adalah bonus demografi. Tapi bonus ini sekaligus bisa menjadi gunung es, jika tidak diakselerasi.

Kita melihat sendiri, banyak pemuda hebat Ternate yang larinya cepat, manuvernya kencang tapi itu hanya nampak di media sosial. Kita (pemuda) bahkan lambat dalam memberi kontribusi nyata.

Banyak pemuda punya keahlian berdebat dan mengkritik kota, tapi absen dan bungkam saat kota butuh dibersihkan. Padahal panggilan itu mestinya menggugah pemuda untuk menyumbangkan solusi dan kontribusi terhadap pembangunan.

Sinergi Adalah Energi = Akselerasi

Akselerasi bukan berarti kita harus bergerak kencang atau bermanuver seperti balapan di sirkuit. Akselerasi yang dimaksud di sini adalah, pemuda harus cepat berpindah dari pola lama ke pola baru. Dari wacana ke karya, dari diskusi ke eksekusi, dari kritik ke solusi.

Satu hal yang saya amati dalam gerakan kaum muda hari-hari ini adalah, pemuda kehabisan energi. Pemuda Kota Ternate bukan kekurangan orang pintar dan hebat.

Masalah kita hari ini adalah, energi anak muda yang hebat ini justru habis terkuras untuk saling berkompetisi, bukan bersinergi. Sesama OKP saling berdebat dan unjuk kehebatan. Bahkan, ada OKP yang harus sibuk dengan urusan internal. Akibatnya, energi habis dan hasil tidak terlihat.

Bayangkan, jika pemuda menyatukan kekuatan, maka yang terjadi bukan saja Ternate kemabali menjadi perhatian negara, tapi bahkan dunia global ikut melirik. Jika rempah Ternate pernah menggerakkan kapal-kapal besar Eropa membelah samudera, maka sinergi pemuda Ternate hari ini harus bisa menggerakkan pembangunan kota.

Tugas pemuda hari ini bukan lagi menanam cengkeh dan pala. Tapi memberi nilai lebih sebagai kota penghasil rempah.

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2 3

Komentar

Loading...