Perempuan, Tubuh dan Tabu

Sirli Saputri Habib Abdurachman

Konyol jikalau suci diukur dari selangkangan. Bukan hanya itu, anak yang masih beliapun tak menutup kemungkinan di perkosa, tubuh bukan satu satunya faktor birahi tak terhindari, sebab adrenaline bobrok para pelaku kekerasan masih menempel pada dinding penis.

Nawal El Sadawi memberi salam “Tubuh perempuan adalah medan pertempuran, antara kebebasan dan penindasan, tidak ada pembebasan sejati tanpa pembebasan perempuan” tak semuanya berideologi seksisme, karena diantaranya berupaya memberi khidmat pada perempuan.

Begitulah, budaya kita membiasakan bertindak tutur mengenai seksualitas dan kesehatan reproduksi adalah hal tabu. Barang kali kesadaran tak muncul begitu saja dari diri, banyak dari kita membutuhkan dorongan epistemik yang kuat, harusnya, sejak berusia dini diperkenankan dan diperkenalkan, agar semua dari kita paham, dan dapat mencegahnya dari konsekuensi tak terduga.

Tapi hal ini masih tertutup rapi, ditarik pintu dan jendelanya. Diberi sekat agar sesiapapun perempuan tak sadar dan menelan mentah dogma patriarkis. Hal semacam ini masih minim diterapkan pada pendidikan informal.

Walaupun demikian, zaman post modern ini banyak hal telah bertransformasi, perempuan yang cerdas adalah upaya mendobrak pemikiran usang serba kolot yang itu sengaja tak ditelanjangi sebagai ketakutan akan kebenaran bahwa perempuan akan tidak mudah dikontrol oleh sistem apapun. Perempuan bisa berada dalam ruang publik adalah pencapaian yang seyogyanya dicapai.

UU PPRT yang diusung dan didorong pada tahun 2004 dan baru disahkan pada 21 April 2026. Penantian yang cukup panjang selama 22 tahun lamanya. Terbukti satu dari sekian emansipasi yang berserakan. Walaupun pada implementasinya UU PPRT dan TPKS masih jauh dari kelegaan.

Tabu sebenarnya hanya dijadikan tameng egosentris para misoginis dan misandri. Kita terjebak pada pola laku simbolik yang tak saling dukung, padahal sistem dapat dirubah jikalau semuanya turut andil menciptakan ruang aman antar sesama. Tak ada solusi paling purba, selain membersamai.(*)

Selanjutnya 1 2

Komentar

Loading...