Dekat dengan Syamsul Dani M. Saleh, ASN yang Produktif Hasilkan Buku
Bakat Menulis Diwarisi dari Sang Ayah

Dari dua wadah itulah benih kepemimpinan Dani mulai tumbuh, jauh sebelum kelak berkembang lebih besar di bangku kuliah.
Jika sang ayah mewariskan kecintaan pada kata-kata, ibunya Sumiyati Liambana, mewariskan sesuatu yang tidak kalah penting, yaitu kedisiplinan, ketekunan dan rasa syukur.
Meski hanya menempuh pendidikan hingga jenjang Sekolah Menengah Pertama, ibunya dikenal sebagai sosok yang keras dalam mendidik anak-anaknya. Aturan di rumah dijalankan dengan tegas, dan setiap kesalahan selalu mendapat teguran yang tidak main-main.
“Namun di balik ketegasan itu, ada doa yang tidak pernah putus ia panjatkan untuk anak-anaknya. Doa yang tulus dan sederhana agar anaknya kelak tumbuh menjadi orang yang baik dan berhasil,” kata Dani dengan mata berkaca-kaca.
Berbeda dengan ibunya, sang ayah memilih jalan yang tidak biasa dalam mendidik Dani. Ia tidak pernah membimbing secara langsung atau mendikte anaknya harus menjadi seperti apa.
Sebaliknya, dia membiarkan keadaan dan kenyataan hidup yang membentuk Dani menjadi seorang lelaki. Tidak ada arahan yang berlebihan, tidak ada jalan yang dimudahkan.
Dani dibiarkan berhadapan langsung dengan konsekuensi dari setiap pilihannya sendiri. Dari cara mendidik yang demikian, tertanam satu nilai yang terus dipegang Dani hingga dewasa, yaitu tidak pernah mengenal kata menyerah. Gagal, coba lagi, dan terus mencoba sampai mimpi itu benar-benar terwujud.
Memasuki SMA Negeri 1 Sanana pada tahun 2005 hingga 2008, terjadi perubahan besar dalam diri Dani. Remaja yang dulu rajin dan berprestasi itu mulai kehilangan arah, sering bolos sekolah, dan beberapa kali terlibat dalam pergaulan yang kurang sehat bersama teman sebayanya.
Baca Halaman Selanjutnya..



Komentar