Nasionalisme di Lapangan Sepak Bola dan Nasionalisme di Ruang Demokrasi

Aslam Muhammad Nur

Padahal, demokrasi pada dasarnya adalah mekanisme untuk mengelola perbedaan, bukan menghapusnya. Ia membutuhkan penghormatan terhadap aturan main, kesediaan menerima hasil kontestasi, serta kematangan dalam menjaga relasi sosial setelah kompetisi berakhir.

Di titik ini muncul ironi. Dalam sepak bola, masyarakat dengan mudah menerima perbedaan dukungan tanpa merasa identitasnya terancam. Namun dalam politik, perbedaan sering kali dianggap sebagai ancaman terhadap identitas kelompok.

Padahal, nilai-nilai dalam olahraga sangat relevan bagi demokrasi. Sportivitas mengajarkan penghormatan terhadap aturan, penerimaan hasil, dan kemampuan menjaga relasi sosial setelah kompetisi selesai. Nilai ini menjadi fondasi penting bagi demokrasi yang sehat.

Lebih jauh, pengalaman Piala Dunia menunjukkan bahwa kompetisi dapat berjalan berdampingan dengan penghormatan. Orang-orang dari berbagai negara dapat bersaing tanpa kehilangan rasa saling menghormati.

Nilai ini seharusnya menjadi refleksi bagi kehidupan demokrasi di Indonesia. Nasionalisme tidak cukup dimaknai sebagai simbol atau slogan, tetapi juga sebagai kemampuan menerima perbedaan, menjaga persatuan, dan menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan kelompok.

Bahkan kritik terhadap pemerintah dapat menjadi bagian dari nasionalisme, selama disampaikan secara konstruktif dan berorientasi pada perbaikan.

Pada akhirnya, sepak bola memberikan pelajaran sederhana: perbedaan tidak harus berujung pada perpecahan. Jika masyarakat mampu merayakan perbedaan di stadion, maka kemampuan yang sama seharusnya dapat hadir dalam ruang demokrasi.

Nasionalisme yang matang bukanlah yang menghapus perbedaan, melainkan yang mampu mengelolanya menjadi kekuatan bersama. Dari lapangan hijau hingga arena politik, tantangannya tetap sama: menjaga persatuan tanpa meniadakan keberagaman. (*)

Selanjutnya 1 2 3

Komentar

Loading...