Nasionalisme di Lapangan Sepak Bola dan Nasionalisme di Ruang Demokrasi

Aslam Muhammad Nur

Fenomena menarik lainnya terlihat di Indonesia Timur, khususnya Papua dan Maluku. Dalam beberapa momen Piala Dunia maupun kompetisi Eropa, wilayah ini dikenal memiliki basis dukungan kuat terhadap tim-tim seperti Belanda.

Fenomena ini tidak berdiri dalam ruang kosong, melainkan dipengaruhi oleh faktor historis, kedekatan budaya, serta pengalaman sosial yang membentuk preferensi olahraga masyarakat setempat.

Di beberapa daerah, euforia sepak bola bahkan melahirkan konvoi dan nonton bareng besar-besaran yang menunjukkan betapa kuatnya sepak bola sebagai ruang ekspresi identitas kolektif. Di sisi lain, secara nasional Indonesia juga dikenal memiliki basis suporter yang sangat besar dan loyal.

Bahkan dalam laporan CIES Football Observatory, suporter Indonesia menempati peringkat delapan dunia berdasarkan aktivitas penonton stadion dan keterlibatan digital, menunjukkan betapa kuatnya budaya dukungan terhadap sepak bola di tanah air.

Data ini memperlihatkan bahwa Indonesia bukan hanya negara dengan antusiasme sepak bola tinggi, tetapi juga masyarakat yang terbiasa mengekspresikan identitas secara terbuka dalam ruang olahraga.

Sepak bola juga menunjukkan bagaimana perbedaan dapat dikelola secara sehat. Pendukung tim yang berbeda dapat berdebat dengan intens, namun setelah pertandingan berakhir, relasi sosial kembali normal. Lawan di lapangan tetap bisa menjadi teman dalam kehidupan sehari-hari.

Inilah yang menghadirkan kontras ketika dibandingkan dengan ruang demokrasi.
Dalam praktik politik, perbedaan pilihan sering kali tidak berhenti sebagai kompetisi gagasan. Ia kerap berkembang menjadi polarisasi sosial yang berkepanjangan.

Identitas politik menguat hingga menggeser identitas sebagai sesama warga negara. Akibatnya, perbedaan yang seharusnya menjadi energi demokrasi justru berubah menjadi sumber ketegangan sosial.

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2 3

Komentar

Loading...