Menghadapi Multi-Hazard Events di Pulau Ternate

Mohammad Ridwan Lessy

Serta keterbatasan lahan untuk pembangunan infrastruktur dan permukiman yang berdampak pada pembukaan lahan ke arah gunung serta berkembangnya beberapa kawasan kumuh di wilayah pesisir.

Faktor lainnya adalah akses terhadap sumberdaya air yang belum merata dimana beberapa kelurahan di wilayah ketinggian masih terbatas distribusi air bersihnya; permasalahan timbulan sampah yang mencemari lingkungan baik di darat maupun di laut;

Serta menaiknya suhu permukaan di wilayah perkotaan (urban heat) yang berdampak pada berkuranya kenyamanan masyarakat.

Pergeseran Single Hazard ke Multi-Hazard Events di Pulau Ternate

Saat ini, kita semua perlu memahami bahwa kejadian bencana mulai bergeser dari single-hazard (bahaya tunggal) menuju multi-hazard (multi bahaya).

Dimana pergeseran single hazard menjadi multi-hazard merujuk pada peristiwa satu bahaya tunggal yang memicu bahaya-bahaya lanjutan atau kombinasi dari dua atau lebih bahaya yang terjadi secara bersamaan, dan berurutan sehingga menghasilkan dampak yang lebih besar daripada kejadian bahaya tunggal.

Catatan penulis yang di kutip dari berbagai sumber mendapatkan bahwa interaksi single hazard menjadi multi-hazard events telah terjadi di Kota Ternate sejak dua dekade terakhir.

Cuaca ekstrim (hujan lebat) misalnya telah memicu bencana longsor, banjir bandang dan banjir di kelurahan Bula, kelurahan Tobololo, dan kelurahan Takome pada tahun 2020, serta kelurahan Tubo pada tahun 2011 dan 2012.

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2 3 4

Komentar

Loading...